<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>WuaWua</title>
	<atom:link href="http://wuawua.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wuawua.wordpress.com</link>
	<description>Social Media, Programming, and My Thoughts</description>
	<lastBuildDate>Sat, 29 Oct 2011 18:09:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wuawua.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>WuaWua</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wuawua.wordpress.com/osd.xml" title="WuaWua" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wuawua.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi Bangsa dan Negara: Bagaimana Sikap Kita sebagai Murid Kristus?</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2011/10/30/peran-teknologi-informasi-dan-komunikasi-bagi-bangsa-dan-negara-bagaimana-sikap-kita-sebagai-murid-kristus/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2011/10/30/peran-teknologi-informasi-dan-komunikasi-bagi-bangsa-dan-negara-bagaimana-sikap-kita-sebagai-murid-kristus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 17:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[bangsa dan negara]]></category>
		<category><![CDATA[murid Kristus]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://wuawua.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Alfa Ryano Yohannis IT Ministry alfa.ryano@gmail.com Abstrak Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir menjadikan dirinya sebagai sektor vital bagi pembangunan bangsa dan negara. Indonesia juga mengalami pertumbuhan TIK, ironisnya pertumbuhan tidak merata dan tertinggal jauh oleh negara-negara lain. Pemeritah Indonesia merespon dan menetapkan visi Indonesia Informatif menuju masyarakat sejahtera. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=96&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p>Alfa Ryano Yohannis</p>
<p>IT Ministry</p>
<p><a href="mailto:alfa.ryano@gmail.com">alfa.ryano@gmail.com</a></p>
<h2><strong>Abstrak</strong></h2>
<p><em>Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat dalam dua dekade terakhir menjadikan dirinya sebagai sektor vital bagi pembangunan bangsa dan negara. Indonesia juga mengalami pertumbuhan TIK, ironisnya pertumbuhan tidak merata dan tertinggal jauh oleh negara-negara lain. Pemeritah Indonesia merespon dan menetapkan visi Indonesia Informatif menuju masyarakat sejahtera. Ada banyak hambatan yang dihadapi. Walaupun demikian, ada banyak peluang yang dapat dimanfaatkan melalui interaksi bidang TIK dengan bidang-bidang lainnya. Bagaimana murid-murid Kristus menyikapinya? Kami mengajukan perlunya murid-murid Kristus di bidang TIK untuk mulai berjejaring dan berkolaborasi, mengembangkan dan menerapkan keahlian yang dimiliki, dan bertindak nyata memenuhi mandat budaya dan panggilannya sebagai garam dan terang.</em></p>
<h2><strong>1. Pendahuluan</strong></h2>
<p>Dalam satu dekade terakhir, perkembangan teknologi informasi (TIK) begitu pesat yang ditandai dengan lahirnya generasi Web 2.0 dimana internet tidak hanya digunakan sebagai sumber informasi tetapi juga untuk interaksi, kolaborasi, dan saling berbagi. TIK kini tidak lagi terkurung dalam ruang <em>server</em>, laboratorium, kelas, dan kantor tetapi semakin terserap masuk ke dalam keseharian hidup manusia dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Dari <em>mainframe</em> yang memerlukan ruang khusus hingga ponsel pintar yang kita kantongi, penggunaan TIK dari direktur hingga tukang becak, dari guru besar hingga anak sekolah, dari para manula hingga anak-anak, semuanya menunjukkan bahwa TIK telah menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban manusia. TIK telah mensejajarkan dirinya dengan teknologi lain—teknologi transportasi, distribusi listrik, dan sistem distribusi air bersih—dalam mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Bedasarkan fakta ini, kami menyatakan bahwa ada lahan yang sangat besar, yang sampai saat ini belum dikelola optimal, yang bisa dipakai oleh anak-anak Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya kepada dunia.</p>
<p><span id="more-96"></span></p>
<p>Makalah ini disusun untuk membukakan status TIK saat ini, baik secara global maupun secara khusus di Indonesia. Makalah ini juga memaparkan secara singkat dampak positif dan negatif dari teknologi informasi. Selanjutnya, makalah ini memaparkan hambatan dan peluang pemanfaatan TIK bagi kepentingan bangsa dan negara di berbagai bidang. Kemudian, bagian penting dari makalah ini, bagaimana seharusnya kita sebagai murid-murid Kristus menyikapi kemajuan TIK untuk membangun bangsa dan negara. Terakhir, makalah ini ditutup dengan sebuah perenungan bahwa manusia tidak lepas dari pengaruh teknologi, tetapi manusia berhak menentukan arah penggunaan teknologi tersebut.</p>
<h2><strong>2. Sekilas Perkembangan Teknologi Informasi Global dan Teknologi Informasi Indonesia</strong></h2>
<p>TIK berkembang dengan sangat pesat, ini dapat dilihat dari munculnya tren-tren baru TIK seperti komputasi awan, TIK hijau, pita-lebar, dan TV digital [5]. Tren lainnya adalah perubahan ukuran fisik komputer yang makin lama makin mengecil. Dahulu yang berbentuk <em>mainframe</em> kini ke bentuk perangkat bergerak (<em>mobile devices</em>). Perubahan ini memungkinkan TIK dapat lebih tersebar sehingga dapat dipakai di mana dan kapan saja. Kemudian evolusi perkembangan teknologi pita-lebar yang dari 2G, 3G, hingga ke UMTS-LTE dan WiMax memungkinkan kanal telekomunikasi tidak hanya untuk suara tetapi juga untuk lalu lintas data berukuran besar [5]. Perkembangan ini membuat internet tidak hanya sebagai alat informasi tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, media berkolaborasi, sumber hiburan, media bisnis, media kampanye politik, media gerakan sosial, dan masih banyak lagi. Internet makin interaktif, makin pervasif<a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"></a><sup>1</sup>, makin menyatu dengan keseharian kehidupan manusia. Inilah tren global TIK saat ini.</p>
<p>Di Indonesia, TIK berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan telepon selular dalam rumah tangga (RT) di Indonesia dalam kurun 2006-2008 memperlihatkan peningkatan. Rasio RT dengan telepon selular terhadap seluruh RT di Indonesia meningkat dari 24,60% pada tahun 2006 menjadi 52,60% pada tahun 2008. Hal ini juga terjadi di seluruh wilayah. Wilayah Kalimantan merupakan wilayah dengan rasio tertinggi sejak tahun 2006 hingga 2008, diikuti wilayah Sumatera dan Jawa [5].</p>
<p>Di bidang pendidikan, dalam tahun ajaran 2006/2007-2008/2009, terjadi peningkatan jumlah mahasiswa aktif dalam bidang TIK terutama mahasiswa program diploma D3 dan Sarjana S1 dengan persentase peningkatan sebesar 1,13% [5].</p>
<p>Di bidang infrastruktur, secara umum, <em>backbone satelite</em> yang dikelola oleh PT Telkom telah menjangkau seluruh wilayah Indonesia baik di wilayah Indonesia bagian barat maupun Indonesia bagian timur. Selain itu, Indonesia juga memiliki Palapa Ring, yaitu jaringan cincin serat optik kabel bawah laut dan darat yang dibangun sebagai tulang punggung (<em>backbone</em>) yang menyambungkan pulau-pulau besar dan utama di seluruh Indonesia. Jaringan ini akan mengatasi ketersediaan koneksi komunikasi, sekaligus solusi bagi kecepatan akses data. Proyek Palapa Ring telah selesai sepanjang 42.470km, yang menghubungkan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB dan NTT. Kemudian akan diteruskan ke Maluku dan Papua (sisa 10.000 km lagi) [5].</p>
<p>Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika telah menetapkan visi “Terwujudnya Indonesia Informatif menuju masyarakat sejahtera melalui pembangunan kominfo berkelanjutan, yang merakyat dan ramah lingkungan, dalam kerangka NKRI” dengan misinya: (1) Meningkatkan kecukupan informasi masyarakat dengan karakteristik komunikasi lancar dan informasi benar menuju terbentuknya Indonesia Informatif dalam kerangka NKRI; (2) Mewujudkan birokrasi layanan komunikasi dan informatika yang profesional dan memiliki integritas moral yang tinggi; (3) Mendorong peningkatan tayangan dan informasi edukatif untuk mendukung pembangunan karakter bangsa; (4) Mengembangkan sistem kominfo yang berbasis kemampuan lokal yang berdaya saing tinggi dan ramah lingkungan; (5) Memperjuangkan kepentingan nasional kominfo dalam sistem pasar global [5].</p>
<p>Pemerintah kita pun telah menetapkan tolak ukuran keberhasilan pembangun TIK di Indonesia, yaitu Sebagai pilar penting penggerak pembangunan, sebagai pembangkit dan penyerap tenaga kerja, sebagai sumber devisa baru, sebagai pilar penting pencerdasan bangsa, dan terakhir, sebagai alat demokrasi dan pemersatu bangsa [5].</p>
<h2><strong>3. Dampak TIK</strong></h2>
<p>Seiring dengan menyatunya TIK ke dalam keseharian kehidupan manusia, TIK mempengaruhi kehidupan manusia. Ia juga datang dengan dampak positif dan juga negatif.</p>
<p>Berdasarkan hasil dari beberapa survei yang dilakukan ITM, TIK dapat memberikan banyak manfaat yang kemudian dikelompokan ke dalam 2 bagian, yaitu TIK sebagai alat untuk mendukung aktivitas (mis: pekerjaan, sosialisasi, komunikasi, pembelajaran) dan TIK sebagai alat untuk memperoleh sumber daya (<em>resources</em>) (mis: musik, software, berita, hiburan, pengetahuan, informasi). Hasil survei ini sejalan dengan hasil peneilitian lain [2][4][7] yang menemukan bahwa penggunaan TIK, khususnya Situs Jejaring Sosial (SJS), dapat memberikan keuntungan berupa: (1) sebagai tempat mencari kesenangan dan hiburan; (2) salah satu cara merawat relasi yang sudah ada; (3) salah satu jalan untuk mencari teman lama; (4) salah satu cara untuk membangun relasi baru; (5) sebagai alat untuk membangun kepercayaaan diri; (6) sebagai kesempatan untuk menjadi orang lain; dan (7) sebagai sarana untuk mengangkat masalah-masalah sosial. Beberapa sumber lain juga mengatakan bahwa TIK membuka lebar peluang terbentuknya bentuk bisnis baru [5] dan juga sebagai alat untuk menuju masyarakat yang ramah lingkungan (<em>Green Society</em>) [5][9].</p>
<p>Sebagaimana pisau dapat digunakan untuk keperluan rumah tetapi juga dapat melukai penggunaanya, demikian pun TIK tidak lepas dari sisi negatif. Dari sisi perilaku, penggunaan SJS dapat menyebabkan penggunanya menghabiskan waktu berlebihan [4]. Pengguna juga dapat dengan mudah membuka informasi pribadi ke publik [1][10]. Dari sisi kriminal, SJS digunakan untuk pencurian identitias, pelecehaan seksual, pornografi, dan penipuan [4]. Dari sisi psikologi, SJS menjadi tempat yang subur untuk narsisme dan dapat memberikan pencapaian dan produktivitas yang semu [3]. Dari sisi nilai dan budaya, SJS mebuat terjadinya pergeseran makna pertemanan dan budaya gosip yang dulu tertutup kini dibawa ke ruang publik [8]. Survei yang dilakukan ITM juga menemukan bahwa penggunaan TIK dapat menyebabkan sulit konsentrasi, ketergantungan, <em>spamming</em>, <em>hoax</em>, sosialisasi berkurang, privasi terbuka, konsumerisme, lupa waktu, pornografi, dan software jahat. Industri TIK juga merupakan salah satu industri yang banyak menghasilkan limbah elektronik [9] dan seiring dengan perkembangannya yang pesat, industri TIK diprediksikan sebagai salah satu industri pemakai energi terbesar [5].</p>
<h2>4. <strong>Pemanfaatan TIK bagi Kepentingan Bangsa dan Negara</strong></h2>
<p>Pemanfaatan TIK bagi kepentingan bangsa dan negara tidak lepas dari hambatan. Walaupun demikian, ada banyak peluang di berbagai bidang di mana TIK dapat dimanfaatkan untuk membangun bangsa dan negara.</p>
<h3><strong>4.1. Hambatan</strong></h3>
<p>Hambatan yang dihadapi oleh negara berkembang seperti Indonesia adalah <strong>kurangnya infrastruktur TIK</strong>. Tanpa infrastruktur, peran vital dari TIK tidak bisa diharapkan. Tidak adanya infrastruktur seperti memiliki sistem distribusi listrik tanpa kabel. Penetrasi infrastruktur TIK di Indonesia tidak merata. Sebagian besar masih di domininasi oleh pulau Jawa. Ini membuat pemanfaatan TIK di daerah luar Jawa menjadi lebih sulit.</p>
<p>Salah satu contoh, infrastruktur backbone serat optik masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia. 65,2% dari total infrastruktur menjangkau wilayah Jawa, diikuti oleh wilayah Sumatera (20,31%) dan Kalimantan (6,13%). Sedangkan pada wilayah Indonesia timur (Nusa Tenggara, Maluku dan Papua) masih belum terjangkau infrastruktur ini, maka Depkominfo telah melaksanakan program Palapa Ring pada tahun 2010 untuk meningkatkan jangkauan backbone serat optik di wilayah tersebut [5].</p>
<p align="center"><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/image1.png"><img style="background-image:none;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;padding-top:0;border-width:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/image_thumb1.png?w=432&#038;h=389" alt="image" width="432" height="389" border="0" /></a></p>
<p align="center"><span style="font-size:xx-small;">Gambar 1 IDI Sub-Index Indonesia dan negara Asia lainnya [5].</span></p>
<p>Dibandingkan dengan negara-negara di Asia, selama kurun 2005-2009, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam merupakan negara yang memiliki penetrasi internet yang paling tinggi diantara negara ASEAN. Perkembangan penetrasi internet di Indonesia masih dibawah penetrasi internet ASEAN. Indonesia hanya unggul dengan negara Filipina, Laos P.D.R dan Kamboja [5].</p>
<p>Hambatan yang juga dihadapi adalah <strong>tingkat pendidikan yang rendah di bidang TIK </strong>dan <strong>kurangnya tenaga ahli</strong>. Misalnya dari [5], didapati bahwa dari dosen pengajar di perguruan tinggi hanya sebagian kecil yang berpendidikan S3. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kualitas pengajar perguruan tinggi di bidang TIK. Secara ideal, jumlah dosen dengan pendidikan S3 harus lebih banyak dibanding S2, dan tidak ada dosen berpendidikan S1 [5].</p>
<p>Secara umum posisi sumber daya manusia Indonesia di bidang TIK masih berada di bawah negara-negara Asia lainnya. Gambar 1, secara umum, <em>ICT Development Index</em> (IDI) untuk penggunaan (IDI use) lebih rendah dibanding indeks yang lainnya, diikuti oleh IDI Access dan indeks tertinggi adalah IDI Skill. Dan pola ini terjadi diseluruh negara kecuali pada Singapore yang memiliki IDI access lebih tinggi dibandingkan IDI Skill. Indonesia sendiri, masih sangat rendah pada IDI use dan IDI access, sedangkan IDI skill Indonesia masih tidak terlalu tertinggal terutama jika dibanding Malaysia dan negara ASEAN lainnya [5].</p>
<p>Database publikasi ilmiah Scopus tahun 2000-2009 menunjukkan bahwa selama kurun 10 tahun, di antara negara ASEAN, Indonesia menduduki peringkat ke empat dalam jumlah publikasi ilmiah internasional di atas Filipina dan di bawah Thailand. Bila dibandingkan dengan negara Asia terpilih, Indonesia menempati urutan kedelapan dalam publikasi ilmiah internasional [5].</p>
<p>Selain kondisi infrastruktur, tingkat pendidikan, dan ketersediaan tenaga ahli, kondisi eksternal juga mempengaruhi, seperti kejelasan hukum, tingkat korupsi yang tinggi, budaya membajak, dan budaya konsumerisme.</p>
<h3>4.2. <strong>Peluang</strong></h3>
<p>Sifat TIK yang fleksibel dan adaptif memungkin TIK dirancang dan dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bidang. Ini membuat TIK dapat memberikan kontribusi di berbagai bidang (Gambar 2). Berikut kami paparkan secara singkat interaksi yang dapat terjadi antara bidang TIK dengan bidang-bidang yang ada pada kapita selekta KNA 2011. Dengan demikian, akan membuka wawasan mengenai kontribusi TIK yang dapat digunakan oleh murid-murid Kristus dalam menggarami msyarakat.</p>
<p align="center"><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/it-and-others1.png"><img style="background-image:none;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;padding-top:0;border-width:0;" title="IT and Others" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/it-and-others_thumb1.png?w=401&#038;h=396" alt="IT and Others" width="401" height="396" border="0" /></a></p>
<p align="center"><span style="font-size:xx-small;">Gambar 2 Interaksi bidang TIK dengan bidang-bidang lainnya.</span></p>
<p><strong>Lingkungan Hidup</strong>.<strong> </strong>TIK dapat memberikan efisiensi kerja. TIK memungkinkan orang bekerja dari rumah tanpa harus menggunakan transportasi ke tempat kerja. Rapat dan komunikasi dapat dilakukan dari jarak jauh sehingga menurunkan produksi polusi udara. Komputasi kerja optimal suatu sistem memungkinkan sistem tersebut menghemat energi dan biaya. Paperless office menghemat penggunaan kertas.</p>
<p><strong>Kesehatan</strong>. Sistem informasi rumah sakit digunakan untuk mengefisienkan kinerja administrasi rumah sakit (RS) sehingga respon terhadap pasien lebih cepat. Rekam medis pasien menolong dokter mendiagnosis penyakit pasien. Internet dan media sosial digunakan sebagai kampanye AIDS. IT Ministry juga telah melakukan program yang mendukung RSUB Singkawang melalui instalasi sistem jaringan komputer di RS tsb. <strong>Pendidikan dan Penelitian</strong>. Penyediaan bahan-bahan pengajaran secara online dan gratis memungkinkan bahan-bahan tersebut dijangkau oleh secara luas dan beragam lapisan. Contoh: Khan Academy. Internet merupakan sumber pengetahuan dan informasi yang berlimpah tetapi sayangnya diperlukan <em>computer literacy</em> yang memadai untuk mengatasi kesenjangan digital untuk memperolehnya. IT Ministry turut berperan dengan memberikan kesempatan magang bagi mahasiswa dengan tujuan memberikan jembatan bagi anak-anak Tuhan di bidang TIK agar memahami kondisi kebutuhan TIK untuk membangun masyarakat secara holistik melalui gereja dan lembaga pelayanan.</p>
<p><strong>Bidang Pengembangan Masyarakat</strong>. TIK dapat dimanfaatkan oleh suatu komunitas untuk membangun komunitas tersebut. <em>Community Informatics</em> adalah bidang disiplin ilmu yang bergerak di bidang ini. Misal: sistem basis pengatahuan untuk menolong petani bercocok tanam. IT juga memiliki program <em>community development</em> di Singkawang yaitu mendidik siswa-siswa asrama GPIBI agar dapat mengoperasikan komputer dan menggunakan OpenOffice.</p>
<p><strong>Bidang Politik dan Pemerintahan</strong>. Bidang politik pun tidak lepas dari penggunaan TIK. Media sosial seperti Facebook dan Twitter digunakan sebagai media kampanye pada pemilu presiden di AS. Pemilu di sana juga telah menggunakan E-Voting. Penggunaan E-Government meningkatkan layanan masyarakat dan komunikasi pemerintah-masyarakat. Melalui media sosial, warga negara dapat lebih lantang bersuara dan terbuka dan mengawasi pemerintahan dan mengeluarkan pendapatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Bidang Ekonomi</strong>. TIK memungkinkan terbentuknya model bisnis baru (Facebook, Angry Birds, Kaskus) dan atau model bisnis konvensional dengan cara-cara yang baru (Amazon). Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pemasaran. Internet juga dapat digunakan untuk memasarkan potensi daerah agar dapat dikenal secara global. Oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika, TIK ditargetkan dapat menyerap tenaga kerja dan menambah devisa negara [5].</p>
<p><strong>Bidang Hukum dan Keamanan</strong>.<strong> </strong>Kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia akan hak kekayaan intelektual membuat Indonesia sebagai tempat yang subur bagi pembajakan, kesadaran untuk tidak membuka informasi sensitif di internet masih rendah, dan kuranganya pengetahuan masyarakat akan Pasal 28 f UUD RI 1945, UU No. 36/1999 tentang Telekomunikasi, UU No. 32/2002 tentang Penyiaran, UU No 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU No.14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik, dan undang-undang lainnya menjadi masalah yang masih harus dihadapi. Internet dapat dijadikan sebagai media untuk mendidik masyarakat Indonesia agar melek hukum.</p>
<p>Berkaitan dengan separatisme dan terorisme, internet banyak digunakan sebagai media untuk menggalang kekuatan—berkoordinasi dan menyebarkan faham [12]. Kementerian Komunikasi dan Informasi, lembaga keamanan, dan lembaga hukum wajib bekerjasama menetapkan langkah-langkah, mulai dari perancangan undang-undang hingga kepada tingkatan aplikasi, misal pembuatan sistem antiteorisme untuk menolong lembaga keamanan.</p>
<p><strong>Bidang Media dan Budaya</strong>. TIK mendorong terjadinya komunitas online untuk saling berbagi dan menyediakan media untuk berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Kebebasan dan kemudahan yang diberikan memerlukan etika baru agar karya yang diunggah ke internet berkualitas tidak asal mengkopi karya lain. Contoh: kompasiana, youtube, WordPress. TIK juga memungkinkan para seniman lebih berekspresi dan mengerjakan karya mereka lebih efisien. Mis: aplikasi pengolah grafis dan animasi. Perlu diingat bahwa komunitas online pun perlu dikendalikan agar menjadi tempat yang konstruktif bagi penggunanya [11].</p>
<p><strong>Bidang Pelayanan Gereja. </strong>TIK dapat digunakan sebagai media untuk memberitakan kabar baik, kesaksian, belajar Alkitab, dan persekutuan. Contoh: lifechurch.tv, youversion, SABDA. TIK juga dapat digunakan digunakan untuk mengefisienkan proses-proses internal lembaga-lembaga gereja dan <em>parachurch</em>. Misalnya IT Ministry dan Perkantas bekerjasama dalam membangun basisdata alumni Perkantas.</p>
<p><strong>Bidang Pelayanan Keluarga</strong>. TIK dapat digunakan untuk mendukung proses-proses internal dari organisasi non-profit yang mempunyai visi untuk keluarga. Komunitas online yang bertema membangun keluarga bahagia juga dapat dibentuk. Selain itu, informasi dan pengetahuan tentang keluarga yang sehat dapat disebarluaskan melalui internet. Di bidang keluarga, IT Ministry juga berperan dengan membuatkan program konseling bagi lembaga Eunike.</p>
<p><strong>Bidang Pelayanan Alumni</strong>. Saat ini Perkantas bekerjasama dengan IT Ministry sedang mengerjakan sistem database alumni Perkantas. Diharapkan melalui sistem ini jejaring dan kolaborasi antara alumni dapat lebih terbangun. Selain itu, ketika dibutuhkan SDM-SDM dengan keahlian tertentu, dapat lebih mudah dicari dan dikerahkan.</p>
<p><strong>Bidang Teknologi Informasi</strong>. Internet adalah sumber di mana peminat TIK dapat belajar secara otodidak. Ada banyak komunitas online untuk bergabung. Para praktisi bahkan secara sukarela membagi pengalaman mereka melalui blog, forum, dan situs pribadi. Ada banyak situs berita untuk mengikuti perkembangan di bidang TIK. Sayang, masih sedikit sekali tempat di internet yang membahas bagaimana mengintegrasikan iman dan ilmu di bidang TIK.</p>
<h2><strong>5. Tanggapan sebagai Murid Kristus</strong></h2>
<p>Sampai dengan subbab ini, telah dipaparkan bahwa TIK global berkembangan dengan sangat cepat, makin powerful, makin pervasif. Pemerintah Indonesia juga telah menyadari pentingnya peran TIK bagi kepentingan bangsa dan negara dengan menetapkan visi, misi, dan program-program untuk mewujudkan Indonesia informatif. Makalah ini juga telah memaparkan secara singkat dampak negatif dan positif yang muncul dari pemanfaatan TIK. Penerapan TIK di Indonesia juga menghadapi hambatan tetapi ada begitu banyak peluang untuk membawa Indonesia ke status yang lebih baik melalui pemanfaatan TIK. Lalu, bagaimanakah kita sebagai murid-murid Kristus menyikapinya? Apakah kita tinggal diam membiarkan TIK dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Apakah kita dikuasai teknologi ataukah kita yang menguasai teknologi?</p>
<p><strong>Mandat Budaya</strong>. Pada Kejadian 1:28, <em>Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: &#8220;Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.&#8221;</em>. Allah memberikan mandat kepada manusia untuk menaklukannya, bukan mengabaikannya. Ia memerintahkan manusia untuk tidak tinggal diam tetapi aktif mengusahakan dan mengelola bumi.</p>
<p><strong>Diperlengkapi dengan Keahlian</strong>. Tuhan pun tidak tinggal diam dan penyerahkan segala sesuatunya kepada manusia. Ketika Ia mempercayakan suatu pekerjaan kepada orang percaya, Ia membekali-Nya—sama seperti ketika Ia memberikan rupa-rupa keahlian, pengertian, dan pengetahuan keahlian kepada Bezaleel dan Aholiab untuk melakukan bermacam pekerjaan bagi-Nya (Keluaran 31). Entah apakah Anda seorang profesional, seorang mahasiswa, akademisi, peneliti di bidang TIK, ataukah TIK hanyalah sebagai hobi atau minat, pengetahuan, keterampilan, dan keahlian yang Anda miliki merupakan berkat yang diberikan oleh Tuhan kepada Anda. Pergunakanlah itu bagi kemuliaan-Nya.</p>
<p><strong>Yang Kuat Menanggung yang Lemah</strong>. Roma 15:1 menyatakan, <em>“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahain orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”</em> Ayat ini mengingatkan kita bahwa kita adalah orang-orang yang beruntung bisa menikmati dan memanfaatkan TIK. Ironisnya, di Indonesia masih banyak masyarakat yang belum melek teknologi dan dengan perkembangan teknologi yang pesat saat ini dapat membuat mereka tergilas oleh kemajuan zaman. Mari mengkhususkan waktu, pikiran, dan tenaga untuk menolong mereka yang terbelakang.</p>
<p><strong>Dipanggil untuk Menggarami</strong>.<em>“Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!”</em> (Mazmur 82:3). <em>“&#8230; belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!”</em> (Yesaya 1:17). <em>“&#8230;usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”</em> (Yeremia 29:7). Ayat-ayat tersebut adalah ayat-ayat yang memerintahkan orang percaya untuk turut berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat dan negara. Kita sebagai orang-orang yang bergerak di bidang TIK wajib ikut serta dalam usaha membangun bangsa dan negara ini sesuai dengan pengetahuan dan keahlian yang kita miliki.</p>
<p><strong>Berjejaring dan Berkolaborasi</strong>. Orang percaya diberikan talenta yang beragam oleh Allah. Oleh karena itu, umat Tuhan harus bersatu—saling mengisi antara satu sama yang lain. Dengan cara inilah mandat yang Allah berikan kepada kita dapat diwujudkan. Murid-murid Kristus yang bergerak di bidang TIK memiliki keahlian yang berbeda-besa, misal jaringan komputer, analis sistem atau proses bisnis, database, pemrograman, desain grafis, multimedia, tata kelola, pencintraan, dll. Profesi juga pun berbeda-beda, yaitu mahasiswa, guru, praktisi, ilmuwan, pedagang, desainer, dll. Umur, pengalaman, dan latar belakang pribadi pun bisa berbeda-beda. Tetapi karena kita percaya kepada satu Tuhan yang sama, kita adalah satu tubuh—saling melengkapi (Roma 12, 1 Korintus 12, Efesus 4:16). Oleh karena itu, komunikasi, berjejaring, dan berkolaborasi harus digiatkan. Karena dengan itu kita dapat bersatu dan saling membangun satu sama lain. Kita bisa belajar dari kitab Nehemia bagaimana umat Allah dengan keahlian yang berbeda-beda berkolaborasi membangun kembali tembok Yerusalem.</p>
<h2><strong>6.Penutup</strong></h2>
<ol>Interaksi antara manusia dengan TIK masih masih belum dewasa dan manusia masih harus terus belajar menggunakannya dengan bijak. Dari contoh negatif dan positif yang dipaparkan sebelumnya, kita belajar bahwa TIK dapat mengubah manusia—perilaku, nilai, dan budaya. Tetapi di sisi lain, manusia juga memiliki hak dan kuasa untuk mengarahkan penggunakan TIK sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk menbangun manusia itu sendiri (Gambar 3). Disinilah letak peran dari murid-murid Kristus, yaitu merumuskan bagaimana seharusnya manusia mengunakan teknologi dan mendidik masyarakat agar dewasa dalam berteknologi.</ol>
<p align="center"><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/people-vs-technology1.png"><img style="background-image:none;padding-left:0;padding-right:0;display:inline;padding-top:0;border-width:0;" title="people vs technology" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/people-vs-technology_thumb1.png?w=472&#038;h=189" alt="people vs technology" width="472" height="189" border="0" /></a></p>
<p align="center"><span style="font-size:xx-small;">Gambar 3 Penggunaan teknologi dapat mengubah manusia, tetapi sebaliknya manusia juga dapat mengarahkan penggunaan teknologi [6].</span></p>
<p>Teknologi itu seperti pedang dan kita, pengguna, adalah pendekarnya. Seorang pendekar mungkin pernah teriris dan tertusuk oleh pedangnya sendiri, tetapi ia belajar untuk tidak terluka lagi. Lebih dari itu, dia berlatih gigih menggunakan pedangnya dengan tidak egois; ia belajar untuk menolong orang lain dan terutama untuk menegakan kebenaran dan keadilan.</p>
<p>Seseorang disebut pendekar bukan karena pedangnya, melainkan karena hatinya; hati yang memperjuangkan nilai-nilai yang mulia. Bahkan tanpa pedang pun ia tetaplah seorang pendekar, yaitu karena hatinya.</p>
<p>Kita mungkin adalah orang-orang yang beruntung bisa mencicipi teknologi. Kita juga mungkin pernah terluka olehnya karena kekurangdewasaan kita. Tetapi, kita memiliki kesempatan untuk dapat belajar menggunakannya dengan bijak—menggunakannya untuk kebenaran. Sampai kepada kualitas dimana kita disebut sebagai pahlawan-pahlawan komputer dan informatika. Bukan karena kecanggihan teknologi, tetapi karena hati yang diubahkan oleh Kristus. Mari bersama menyatakan damai sejahtera-Nya melalui teknologi informasi dan komunikasi!</p>
<h2><strong>7. Sekilas tentang IT Ministry</strong></h2>
<p>IT Ministry adalah komunitas pelayanan yang melihat masalah, peluang, dan perkembangan TIK sebagai kesempatan bagi anak-anak Tuhan untuk masuk mempengaruhi dunia melalui TIK. Program-program yang telah dijalakankan seperti <em>mission trip</em> dan <em>community development</em> di Singkawang, pelatihan, sharing, dan seminar di berbagai lembaga, <em>internship</em> bagi mahasiswa, pembuatan sistem informasi bagi NPO/NGO adalah sebagian dari langkah-langkah awal yang diberikan oleh IT Ministry untuk berkontribusi lebih lagi di masa mendatang. IT Ministry peduli terhadap TIK dan bagaimana TIK dapat berguna bagi negara, masyarakat, dan gereja (<a href="http://www.itministry.org">http://www.itministry.org</a>).</p>
<h2>8. <strong>Daftar Pustaka</strong></h2>
<ol>
<li><a name="__RefNumPara__663_1046947972"></a>Acquisti, A., dan Gross, R., 2006, <em>Imagined Communities: Awareness, Information Sharing, and Privacy on the Facebook</em>, In P. Golle &amp; G. Danezis (Eds.), <em>Proceedings of 6th Workshop on Privacy Enhancing Technologies</em><em> </em>(pp. 36-58), Cambridge, U.K: Robinson College, June 28-30.</li>
<li><a name="__RefNumPara__515_1046947972"></a>Boyd, D.M., &amp; Ellison, N. B., 2007, <em>Social network sites: Definition, history, and scholarship</em>,<em> </em>Journal of Computer-Mediated Communication<strong>,</strong><em><strong> </strong></em><em>13 </em>(1), article 11,<a href="http://jcmc.indiana.edu/vol13/">http://jcmc.indiana.edu/vol13/</a><a href="http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/">issue1/</a><a href="http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/boyd.ellison.html">boyd.ellison.html</a>.</li>
<li><a name="__RefNumPara__725_1046947972"></a>Boyd, D., 2006, <em>Friends, Friendsters, and MySpace Top 8: Writing Community Into Being on Social Network Sites</em>, First Monday, 11 (12), December, http://www.firstmonday.org/issues/issue11_12/boyd/index.html.</li>
<li><a name="__RefNumPara__517_1046947972"></a>Ofcom (Office of Communications), 2008, <em>Social Networking: A Qauntitative and Qualitative Research Report into Attidues, Behaviours, and Use</em>, Research Document, England, 2 April.</li>
<li><a name="__RefNumPara__512_1046947972"></a>Ramli, K., Sarwoto, Rusadi, U., dkk., 2010, <em>Komunikasi dan Informatika Indonesia Whitepaper 2010</em>, Pusat Data Kemeterian Komunikasi dan Informatika.</li>
<li><a name="__RefNumPara__1040_585792680"></a>Ryano, A. (2009): “<em>Bridging</em><em> </em><em>Theories</em><em> </em><em>and</em><em> </em><em>Applications:</em><em> </em><em>Learn</em><em> </em><em>from</em><em> </em><em>Social</em><em> </em><em>Networking</em><em> </em><em>Sites</em><em> </em><em>Issues</em>”, National Conference of Information System 2009, Yogyakarta, Indonesia, January 17, 2009.</li>
<li><a name="__RefNumPara__519_1046947972"></a>Storsul, T., Arnseth, h.C., Bucher, T., Enli, G., Hontvedt, M., Kløvstad, V., dan Maasø, A., 2008, <em>New web phenomena. Government administration and the culture of sharing</em>, report published by IMK and ITU, University of Oslo.</li>
<li><a name="__RefNumPara__667_1046947972"></a>Sveningsson Elm, M., 2007, <em>Taking the Girls’ Room Online: Similarities and Differences between Traditional Girls Room and Computer-Mediated Ones</em>, Paper presented at INTER: A European Cultural Studies Conference in Sweden, ACSIS, Norrköping, June 11-13, 2007,<em> </em><em>Linköping Electronic Conference Proceedings</em><em>.</em></li>
<li><a name="__RefNumPara__521_1046947972"></a>Tomlinson, B., 2010, <em>Greening through IT: information technology for environmental sustainability</em>, Massachusetts Institute of Technology Press.</li>
<li><a name="__RefNumPara__665_1046947972"></a>Tufekci, Z., 2008, <em>Can You See Me Now? Audience and Disclosure Management in Online Social Network Site</em>, Bulletin of Science and Technology Studies, SAGE Publications.</li>
<li><a name="__RefNumPara__1055_585792680"></a>Yohannis, A.R. (2009): “<em>Designing</em><em> </em><em>Conceptual</em><em> </em><em>Model</em><em> </em><em>of</em><em> </em><em>Social</em><em> </em><em>Control</em><em> </em><em>on</em><em> </em><em>Social</em><em> </em><em>Networking</em><em> </em><em>Site</em><em> </em><em>Communities</em><em> </em><em>(Case</em><em> </em><em>Study</em><em> </em><em>Fupei.com</em><em> </em><em>and</em><em> </em><em>Kombes.com)</em>”, Master Thesis, Master of Informatics, School of Electrical Engineering and Informatics, Institut Teknologi Bandung, Bandung, West Java, Indonesia</li>
<li>&#8211;, 2011, <em>Peran Kementerian Komunikasi dan Informatika terhadap Advokasi Komunikasi dan Edukasi di Ruang Publik</em>, dalam Deradikalisasi (Meningkatkan Ketahanan Masyarakat) melalui Advokasi Komunikasi dan Edukasi Ruang Publik, Buku Paket Informasi Publik, No.3, Kementerian Komunikasi dan Informatika.</li>
</ol>
<p><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc"></a>1menyebar, tertanaman, dan tidak kelihatan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=96&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2011/10/30/peran-teknologi-informasi-dan-komunikasi-bagi-bangsa-dan-negara-bagaimana-sikap-kita-sebagai-murid-kristus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/image_thumb1.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/it-and-others_thumb1.png" medium="image">
			<media:title type="html">IT and Others</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2011/10/people-vs-technology_thumb1.png" medium="image">
			<media:title type="html">people vs technology</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bijak Berteknologi</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2011/10/05/bijak-berteknologi/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2011/10/05/bijak-berteknologi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 01:05:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Contemplation]]></category>
		<category><![CDATA[bijak]]></category>
		<category><![CDATA[pedang]]></category>
		<category><![CDATA[pendekar]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://wuawua.wordpress.com/2011/10/05/bijak-berteknologi/</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi itu seperti pedang dan kita—pengguna—adalah pendekarnya. Seorang pendekar mungkin pernah teriris dan tertusuk oleh pedangnya sendiri, tetapi ia belajar untuk tidak terluka lagi. Lebih dari itu, dia berlatih gigih menggunakan pedangnya dengan tidak egois; ia belajar untuk menolong orang lain dan terutama untuk menegakan kebenaran dan keadilan. Seseorang disebut pendekar bukan karena pedangnya, melainkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=88&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teknologi itu seperti pedang dan kita—pengguna—adalah pendekarnya. Seorang pendekar mungkin pernah teriris dan tertusuk oleh pedangnya sendiri, tetapi ia belajar untuk tidak terluka lagi. Lebih dari itu, dia berlatih gigih menggunakan pedangnya dengan tidak egois; ia belajar untuk menolong orang lain dan terutama untuk menegakan kebenaran dan keadilan. </p>
<p>Seseorang disebut pendekar bukan karena pedangnya, melainkan karena hatinya; hati yang memperjuangkan nilai-nilai yang mulia. Bahkan tanpa pedang pun ia tetaplah seorang pendekar, yaitu karena hatinya. </p>
<p>Kita mungkin adalah orang-orang yang beruntung bisa mencicipi teknologi. Kita juga mungkin pernah terluka olehnya. Tetapi, kita memiliki kesempatan untuk dapat belajar menggunakannya dengan bijak; menggunakannya untuk kebenaran. Sampai kepada kualitas dimana kita disebut sebagai pahlawan-pahlawan informatika. Bukan karena kecanggihan, tetapi karena hati yang diubahkan oleh-Nya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=88&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2011/10/05/bijak-berteknologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bacaan Wajib Menjelang Jumat Agung dan Paskah</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2010/03/08/bacaan-wajib-menjelang-jumat-agung-dan-paskah/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2010/03/08/bacaan-wajib-menjelang-jumat-agung-dan-paskah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 13:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Christianity]]></category>
		<category><![CDATA[Bahan Bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jumat Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Paskah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2010/03/08/bacaan-wajib-menjelang-jumat-agung-dan-paskah/</guid>
		<description><![CDATA[Alfa Ryano Yohannis Paskah masih satu bulan lagi, namun tidak ada salahnya mempersiapkan diri sedini mungkin sehingga kita tidak melewatkan Paskah tahun ini dengan sia-sia. Berikut ini adalah daftar bacaan wajib yang dapat membantu kita mempersiapkan hati dan pikiran dalam memaknai Paskah. 1. Baca Alkitab. Baca Alkitab, khususnya pada peristiwa penangkapan, penyaliban, kematian, dan kebangkitan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=84&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alfa Ryano Yohannis</p>
<p>Paskah masih satu bulan lagi, namun tidak ada salahnya mempersiapkan diri sedini mungkin sehingga kita tidak melewatkan Paskah tahun ini dengan sia-sia. Berikut ini adalah daftar bacaan wajib yang dapat membantu kita mempersiapkan hati dan pikiran dalam memaknai Paskah.</p>
<p><strong>1. Baca Alkitab. </strong>Baca Alkitab, khususnya pada peristiwa penangkapan, penyaliban, kematian, dan kebangkitan Kristus Yesus di keempat Kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes). Sebaiknya ada bagian-bagian yang di-PA (Penalaahan Alkitab).</p>
<p><strong>2. Baca Wikipedia. </strong>Setidaknya kita dapat melihat bagaimana &#8220;Wisdom of Crowds&#8221; (Baca: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/The_Wisdom_of_Crowds)">http://en.wikipedia.org/wiki/The_Wisdom_of_Crowds)</a> membentuk pemahaman mengenai Paskah. Baca versi Indonesia-nya (<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paskah)">http://id.wikipedia.org/wiki/Paskah)</a> dan juga versi Inggris-nya (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Easter)">http://en.wikipedia.org/wiki/Easter)</a>. Memang agak berat, tapi tidak ada salahnya mencoba perlahan-lahan.</p>
<p><strong>3. Baca Sumber Lain.</strong> Hari ini, <em>inbox email </em>berisi kiriman dari Indonesian Christian Webwatch (ICW) berisi pranala (<em>hyperlink</em>) tentang Paskah yang menarik <a href="http://yesaya.indocell.net/pustaka2/id556.htm">http://yesaya.indocell.net/pustaka2/id556.htm</a>. Melalui halaman tsb, Anda bisa beroleh beragam artikel tentang Paskah dari sudut pandang Katolik.</p>
<p>Semoga apa yang dibagikan bisa bermanfaat bagi setiap orang yang membacanya, khususnya bagi mereka; para pengikut Kristus Yesus. Selamat menghayati dan memaknai Jumat Agung dan Paskah. TUHAN memberkati! AMIN.</p>
<p><strong>Adakah teman-teman lain yang ingin berbagi sumber, cerita, atau pengalaman pribadi seputar Jumat Agung dan Paskah?</strong></p>
<p><a href="http://wuawua.wordpress.com">http://wuawua.wordpress.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=84&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2010/03/08/bacaan-wajib-menjelang-jumat-agung-dan-paskah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Koneksi Java ke MySQL menggunakan JDBC</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2010/03/04/koneksi-java-ke-mysql-menggunakan-jdbc/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2010/03/04/koneksi-java-ke-mysql-menggunakan-jdbc/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Mar 2010 13:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Java]]></category>
		<category><![CDATA[MySQL]]></category>
		<category><![CDATA[Connector/J]]></category>
		<category><![CDATA[JDBC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2010/03/04/koneksi-java-ke-mysql-menggunakan-jdbc/</guid>
		<description><![CDATA[Diasumsikan bahwa sebelum Anda mengikuti langkah-langkah di bawah: Java JDK SE telah terinstall pada sistem operasi dan dapat mengeksekusi perintah javac dan java pada command prompt. Menggunakan sistem operasi Windows. Blog ini menggunakan sistem operasi Windows Vista. Database MySQL telah terinstall dan berjalan dengan baik. Untuk menghubungkan program Java ke database MySQL menggunakan driver JDBC [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=80&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diasumsikan bahwa sebelum Anda mengikuti langkah-langkah di bawah:</p>
<ul>
<li>Java JDK SE telah terinstall pada sistem operasi dan dapat mengeksekusi perintah <em>javac </em>dan <em>java </em>pada <em>command prompt</em>.</li>
<li>Menggunakan sistem operasi Windows. Blog ini menggunakan sistem operasi Windows Vista.</li>
<li>Database MySQL telah terinstall dan berjalan dengan baik.</li>
</ul>
<p>Untuk menghubungkan program Java ke database MySQL menggunakan driver JDBC atau MySQL Connector/J, Anda dapat mengikuti langkah-langkah berikut:</p>
<p><strong>1. Unduh dan Install Driver JDBC MySQL atau MySQL Connector/J</strong>. Driver JDBC MySQL atau MySQL Connector/J dapat diunduh dari <a title="http://dev.mysql.com/downloads/connector/j/" href="http://dev.mysql.com/downloads/connector/j/">http://dev.mysql.com/downloads/connector/j/</a>. Pada saat blog ini ditulis, driver yang dipakai adalah versi 5.1.12. Anda dapat memilih <span style="font-family:Courier New;">mysql-connector-java-5.1.12.zip</span> atau <span style="font-family:Courier New;">mysql-connector-java-5.1.12.tar.gz</span> sesuai dengan sistem operasi yang Anda gunakan.</p>
<p><span id="more-80"></span></p>
<p><strong>2. Ekstrak File Zip/tar.gz yang diunduh</strong>. Setelah selesai mengunduh, ekstrak file yang diperoleh. Kemudian, pindah ke direktori ekstraksi. Di dalamnya terdapat file <span style="font-family:Courier New;">mysql-connector-java-5.1.12-bin.jar</span>.</p>
<p><strong>3. Kopi mysql-connector-java-5.1.12-bin.jar ke direktori %JAVA_HOME%\jre\lib\ext</strong>. Kopi file <em>mysql-connector-java-5.1.12-bin.jar</em> ke direktori <span style="font-family:Courier New;">%JAVA_HOME%\jre\lib\ext</span>, di mana <span style="font-family:Courier New;">%JAVA_HOME%</span> adalah direktori di mana Anda menginstall Java. Misalkan, <span style="font-family:Courier New;">C:\Program Files\Java\jdk1.6.0_16\</span> adalah tempat di mana Anda menginstall Java Anda.</p>
<p><strong>4. Atur variabel CLASSPATH</strong>. Tambahkan <span style="font-family:Courier New;">C:\Program Files\Java\jdk1.6.0_16\jre\lib\ext\mysql-connector-java-5.1.12-bin.jar</span> ke variabel CLASSPATH. Klik <span style="color:#008000;"><span style="font-family:Courier New;">Start Menu &gt; Control Panel &gt; System &gt; Advanced system settings &gt; Tab Anvaced &gt; environment variables …</span></span><strong><span style="font-family:Courier New;color:#004080;">.</span> </strong>Pilih variabel <em>CLASSPATH </em>pada System variables dan klik button Edit. Tambahkan<span style="font-family:Courier New;"> <span style="color:#008000;">“C:\Program Files\Java\jdk1.6.0_16\jre\lib\ext\mysql-connector-java-5.1.12-bin.jar;”</span></span> (tanpa kutip) di bagian <em>variable values</em>. Setelah itu, klik button OK untuk mengakhiri. <strong>Perhatian!!! yang Anda tambahkan adalah direktori fie JAR-nya bukan direktori di mana file JAR berada.</strong></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image_thumb.png?w=375&#038;h=131" border="0" alt="image" width="375" height="131" /></a><span style="font-size:xx-small;"> Variabel CLASSPATH pada Windows</span></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image1.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image_thumb1.png?w=345&#038;h=149" border="0" alt="image" width="345" height="149" /></a><span style="font-size:xx-small;">Menambahkan file JAR ke variabel CLASSPATH</span></p>
<p><strong>5. Buat Source Code program Tes.java.</strong> Buat file <span style="font-family:Courier New;">tes.java</span> dengan menggunakan notepad atau editor lainnya. Ketikkan program di bawah ini:</p>
<div>
<div style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">import java<span style="color:#cc6633;">.sql</span>.*;</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">public class Tes {</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">  public static void main(String args[]) {</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">    Connection con <span style="color:#006080;">= null;</span></pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">    try {</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">      Class<span style="color:#cc6633;">.forName</span>("com<span style="color:#cc6633;">.mysql</span><span style="color:#cc6633;">.jdbc</span><span style="color:#cc6633;">.Driver</span>");</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">      con = DriverManager<span style="color:#cc6633;">.getConnection</span>("jdbc:mysql:<span style="color:#008000;">//localhost:3306/namadatabase", "namauser", "password"); </span></pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">      if(!con<span style="color:#cc6633;">.isClosed</span>())</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">        System<span style="color:#cc6633;">.out</span><span style="color:#cc6633;">.println</span>("Koneksi ke MySQL berhasil...");</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">    } catch(Exception e) {</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">      System<span style="color:#cc6633;">.err</span><span style="color:#cc6633;">.println</span>("Exception: " + e);</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">    } finally {</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">      try {</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">        if(con != null)</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">          con<span style="color:#cc6633;">.close</span>();</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">      } catch(SQLException e) {}</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">    }</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">  }</pre>
<pre style="font-size:8pt;overflow:visible;width:100%;color:black;line-height:12pt;">}</pre>
</div>
</div>
<p><span style="font-family:Courier New;color:#008000;">namadatabase</span>, <span style="font-family:Courier New;color:#008000;">namauser</span>, dan <span style="font-family:Courier New;color:#008000;">password</span> diganti disesuaikan dengan kondisi MySQL Anda. <span style="font-family:Courier New;"><span style="color:#008000;">namadatabase</span> </span>adalah database yang akan Anda gunakan, <span style="font-family:Courier New;color:#008000;">namauser</span> adalah nama user yang terdaftar pada MySQL dan <span style="font-family:Courier New;color:#008000;">password</span> adalah adalah password user bersangkutan.</p>
<p><strong>6. Compile dan eksekusi program.</strong> Lakukan kompilasi dengan perintah <span style="font-family:Courier New;">javac Tes.java</span>. Jalankan program dengan perintah <span style="font-family:Courier New;">java Tes</span>.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image2.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image_thumb2.png?w=249&#038;h=142" border="0" alt="image" width="249" height="142" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:xx-small;">Hasil eksekusi program</span></p>
<p><strong>7. Penutup. </strong>Demikianlah tutorial singkat ini. Semoga membantu ….. <span style="color:#008000;">FEEL FREE TO LEAVE ME A MESSAGE …</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=80&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2010/03/04/koneksi-java-ke-mysql-menggunakan-jdbc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image_thumb.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image_thumb1.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/03/image_thumb2.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MODEL KONSEPTUAL PENGENDALIAN SOSIAL PADA KOMUNITAS SITUS JEJARING SOSIAL</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-model-awal-dan-beberapa-rekomendasi/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-model-awal-dan-beberapa-rekomendasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 13:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[model pengendalian sosial]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[situs jejaring sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi koersif]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi persuasif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-model-awal-dan-beberapa-rekomendasi/</guid>
		<description><![CDATA[Draft Makalah Konferensi Nasional Sistem Informasi 2010, STMIK MDP, Palembang, 22-23 Januari 2010. Draft dapat diunduh  di sini:Draft KNSI 2010 &#8211; Alfa Ryano MODEL KONSEPTUAL PENGENDALIAN SOSIAL PADA KOMUNITAS SITUS JEJARING SOSIAL Alfa R. Yohannis1, Husni Sastramihardja2 1,2 Magister Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 Bandung 1 alfa_ryano@yahoo.co.uk Abstrak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=39&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Draft Makalah Konferensi Nasional Sistem Informasi 2010, STMIK MDP,  Palembang, 22-23 Januari 2010. Draft dapat diunduh  di sini:<a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/draft-knsi-2010-alfa-ryano.pdf">Draft KNSI 2010 &#8211; Alfa Ryano</a></em></p></blockquote>
<p><strong>MODEL KONSEPTUAL PENGENDALIAN SOSIAL PADA KOMUNITAS SITUS JEJARING SOSIAL</strong></p>
<p>Alfa R. Yohannis<sup>1</sup>, Husni Sastramihardja<sup>2</sup><em> </em></p>
<p><sup>1,2 </sup>Magister Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung</p>
<p>Jl. Ganesha 10 Bandung</p>
<p><sup>1 </sup><a href="mailto:alfa_ryano@yahoo.co.uk">alfa_ryano@yahoo.co.uk</a></p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image001.gif"><img style="display:inline;border:0;" title="clip_image001" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image001_thumb.gif?w=240&#038;h=1" border="0" alt="clip_image001" width="240" height="1" /></a></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Kehadiran Situs Jejaring Sosial (SJS) telah memberikan fenomena baru pada penggunaan teknologi informasi dalam konteks sosial. Budaya manusia yang ada di dunia nyata kini telah meluas sampai ke SJS, tidak hanya yang positif tapi juga yang negatif, termasuk pornografi dan rasisme. Makalah ini mengajukan suatu model konseptual pengendalian sosial sehingga bentuk-bentuk budaya negatif dan menyimpang dapat dikurangi di komunitas SJS. Model mengusulkan pengendalian sosial dapat dilakukan pada dua lapisan, yaitu pada Lapisan Interaksi Sosial dan Lapisan Teknologi SJS. Terdapat tiga faktor: kepercayaan moral, keterikatan, dan komitmen dan keterlibatan, pada Lapisan Interaksi Sosial yang jika diperkuat dapat menurunkan penyimpangan. Pada Lapisan Teknologi Terdapat dua komponen: Teknologi Persuasif dan Teknologi Koersif, yang dapat dimanfaatkan SJS untuk mengurangi penyimpangan. Beberapa rekomendasi juga diberikan bagaimana menwujudkan pengendalian sosial pada komuitas SJS.</p>
<p><strong>Kata kunci </strong>: model pengendalian sosial, penyimpangan, situs jejaring sosial, teknologi koersif, teknologi persuasif</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image002.gif"><img style="display:inline;border:0;" title="clip_image002" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image002_thumb.gif?w=240&#038;h=1" border="0" alt="clip_image002" width="240" height="1" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3>1. Pendahuluan</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebagaimana produk teknologi informasi dan komunikasi—seperti ponsel dan internet—telah mengubah pola kehidupan masyarakat, SJS juga telah melakukannya. SJS telah memberikan fenomena baru pada penggunaan teknologi informasi dalam konteks sosial. Pernyataan ini sejalan dengan perspektif <em>Social Informatics</em> yang menyatakan bahwa fenomena sosial baru muncul ketika orang-orang menggunakan teknologi [8]. Interaksi sosial yang terjadi di dunia nyata telah diperluas dengan mengambil tempat baru di dunia maya. Budaya manusia yang ada di dunia nyata kini juga telah sampai di dunia maya. Tidak hanya budaya yang positif saja yang hadir tapi juga yang negatif, termasuk subbudaya menyimpang, seperti pornografi dan rasisme. Di sisi lain, sesuai dengan prinsip <em>Social Informatics</em>, pengguna adalah aktor sosial yang berarti bahwa pengguna dalam penggunaan teknologi informasi juga dibatasi oleh nilai-nilai dan norma yang mengatur bagaimana mereka berperilaku dan berinteraksi dengan pengguna lain [14]. Bentuk-bentuk penyimpangan pornografi dan rasisme dapat dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu, tidak pantas, bahkan kriminal bagi komunitas SJS. Oleh karena itu, pengendalian sosial (PS) dibutuhkan untuk mengarahkan pengguna agar berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma SJS.</p>
<p>Makalah ini mengajukan suatu model konseptual pengendalian sosial bagi komunitas SJS sehingga bentuk-bentuk budaya menyimpang dapat dikurangi. Model mengusulkan pengendalian sosial dapat dilakukan pada dua lapisan, yaitu pada Lapisan Interaksi Sosial dan Lapisan Teknologi SJS. Terdapat tiga faktor—kepercayaan moral, keterikatan, dan komitmen dan keterlibatan—pada Lapisan Interaksi Sosial yang jika diperkuat dapat menurunkan penyimpangan. Pada Lapisan Teknologi Terdapat dua komponen—Teknologi Persuasif dan Teknologi Koersif—yang dapat dimanfaatkan SJS untuk mengurangi penyimpangan.</p>
<p>Makalah ini diawali dengan pendahuluan yang berisi latar belakang dan tujuan penulisan serta penjelasan singkat sistematika penulisan. Selanjutnya untuk memberikan pengertian dasar dan landasan teori bagi penyusunan model, penelitian terkait akan dijelaskan secara singkat pada bagian 2. Pada bagian 3, model konseptual pengendalian sosial pada komunitas SJS dikemukakan dan dijelaskan. Bagian 4 berisi rekomendasi bagi para stakeholder, penyusunan strategi, dan implikasi perancangan dalam mewujudkan pengendalian sosial pada SJS. Pada bagian terakhir, bagian 5, makalah ini ditutup dengan kesimpulan dan beberapa penelitian yang masih perlu dilakukan.</p>
<h3>2. Kajian Terkait</h3>
<p>SJS atau <em>Social Networking Sites</em> diartikan oleh Boyd dan Ellison sebagai situs yang memberikan layanan berbasis web yang memungkinkan pengguna untuk (1) membangun suatu profil publik atau semi-publik dalam suatu sistem terbatas, (2) membangun daftar teman yang melaluinya para pengguna dapat saling berbagi relasi, dan (3) memperlihatkan dan mengubah daftar relasi mereka dalam sistem tersebut [3]. Ofcom mendefinisikan SJS sebagai situs yang menyediakan layanan bagi pengguna untuk membuat profil atau halaman pribadi, dan membangun jejaring sosial <em>online</em>. Halaman profil berisi informasi pribadi (nama, kelamin, agama, hobi, dsb.). SJS juga menyediakan modifikasi halaman, layanan berbagi foto, video, dan musik. Pengguna dapat membangun jejaring sosial yang dapat ditampilkan dalam bentuk daftar teman [12]. Teman di sini dapat berarti teman atau kenalan mereka di dunia nyata, atau orang-orang yang hanya mereka kenal secara <em>online</em>, atau bahkan yang tidak mereka kenal sama sekali.</p>
<p>Melalui eksplorasinya pada isu-isu SJS, Ryano mengemukakan bahwa SJS sebagai salah satu produk teknologi telah mampu mengubah perilaku, nilai, dan budaya para penggunanya [13]. Beberapa perubahan tersebut, yaitu pengguna yang tetap membuka privasi ke publik walaupun mereka sadar identitas pribadi mereka akan diketahui orang lain [1][16], kaburnya nilai pertemanan [2][6], budaya gossip perempuan yang telah berpindah dari kamar pribadi ke SJS [9]<strong> </strong><strong>,</strong><strong> </strong>penggunaan SJS yang terlalu lama, menggunakan profil untuk mempromosikan diri berlebihan, dan disalahgunakan untuk tindakan menyimpang seperti penipuan dan pencurian identitas [12]. Budaya menyimpang yang dulunya hanya berada di dunia nyata kini juga telah memanfaatkan SJS. Dua judul berita situs berita nasional “<em>Penjaja Seks Virtual Banjiri Second Life</em>”<a name="_ftnref1_6982" href="#_ftn1_6982">[1]</a> dan “Rasisme Merebak di Facebook”<a name="_ftnref2_6982" href="#_ftn2_6982">[2]</a> menandakan penyimpangan telah hadir di SJS. Itulah sebabnya mengapa Pengendalian Sosial diperlukan untuk mengurangi atau menghilangkan penyimpangan-penyimpangan tersebut.</p>
<p>Pengendalian Sosial dapat dihasilkan melalui ikatan sosial, yaitu ikatan seseorang dengan entitas sosial (keluarga, pekerjaan, sekolah, komunitas, masyarakat). Pengendalian sosial ini dibangun di atas 4 faktor, yaitu keterikatan, komitmen, keterlibatan, dan kepercayaan moral [15]. Semakin seseorang terikat dalam masyarakat dan semakin banyak investasi sosial mereka, maka mereka cenderung semakin tidak akan menyimpang. Ketika ikatan tersebut lemah, mereka cenderung menyimpang. Pengendalian Sosial juga dihasilkan melalui pengendalian diri, yaitu seseorang tidak akan menyimpang karena ia dapat mengekang dirinya [9]. Mereka yang lemah dalam pengendalian diri cenderung berpikir pendek dan tidak tahan terhadap godaan dari kenikmatan berbuat menyimpang, sementara mereka dengan pengendalian diri yang lebih baik lebih dapat membatasi diri [17].</p>
<p>Baik ikatan sosial maupun pengendalian diri tidak akan mampu mendefinisikan seseorang berbuat menyimpang atau tidak jika nilai-nilai dan norma-norma komunitas tidak jelas. Nilai-nilai berperan sentral karena mengarahkan individu dan komunitas bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku. Sayangnya, nilai-nilai, khususnya nilai-nilai moral, sering kali diabaikan dalam perancangan aplikasi, termasuk aplikasi SJS [7]. Dengan memperjelas nilai-nilai, diharapkan konflik-konflik kepentingan dan tujuan penggunaan SJS dapat dikurangi.</p>
<p>Berdasarkan teori-teori tersebut, Model Konseptual Pengendalian Sosial bagi komunitas SJS dirancang dan dijelaskan pada bagian selanjutnya.</p>
<h3>3. Model Konseptual Pengendalian Sosial pada Komunitas SJS</h3>
<p>Pembuatan model konseptual pengendalian sosial pada komunitas SJS (<em>Gambar</em> 1) dilatarbelakangi oleh banyaknya penggunaan SJS untuk penyimpangan. Kebutuhan untuk mengurangi penyimpangan pun muncul, sehingga SJS dapat menjadi tempat yang nyaman, aman, dan kondusif bagi penggunanya. Model ini dibuat dengan tujuan memberikan gambaran besar pengendalian sosial bagi SJS. Model ditujukan bagi para <em>stakeholder</em>, yaitu pemilik, sebagai penyelengara SJS, dan para perancang dalam merancang SJS yang memperhatikan pengendalian sosial. Model bekerja pada tingkat konseptual dengan memetakan pengendalian sosial ke dalam lapisan-lapisan, faktor-faktor pengendalian sosial yang perlu diperhatikan, pendekatan-pendekatan teknologi yang dapat digunakan, dan bagaimana interaksi antara elemen-elemen tersebut sehingga dapat mengurangi penyimpangan. Model berfungsi sebagai alat bantu bagi penggunanya untuk memahami bahwa pengendalian sosial dapat dilakukan dengan memperkuat faktor-faktor pengendalian sosial pada lapisan interaksi sosial dan juga penggunaan teknologi untuk mendukung pengendalian sosial pada SJS.</p>
<p>Model pengendalian sosial pada komunitas SJS disusun dengan menyertakan faktor-faktor pengendalian sosial Hirschi [15]—faktor kepercayaan moral, faktor keterikatan, dan faktor komitmen dan keterlibatan. Faktor-faktor ini digabung dengan dua komponen teknologi: Teknologi Koersif dan Teknologi Persuasif. Model dibagi ke dalam dua lapisan, yaitu lapisan interaksi sosial dan lapisan teknologi jejaring sosial. Elemen-elemen model pengendalian sosial dijelaskan lebih rinci sebagai berikut.</p>
<h6><a name="_Toc233616287"></a><a name="_Toc233502822"></a><a name="_Ref231620266">3.1 Lapisan Pengendalian Sosial pada SJS</a></h6>
<p>Model pengendalian sosial dibagi ke dalam dua lapisan: lapisan interaksi sosial dan lapisan teknologi jejaring sosial. Lapisan interaksi sosial adalah segala interaksi sosial yang terjadi di SJS. Pada lapisan ini pengguna saling berinteraksi satu sama yang lain. Mereka saling berbagi informasi, foto, video, dan cerita pengalaman pribadi, berdiskusi dalam grup, mengikuti kabar terbaru teman-teman mereka, menyatakan diri mereka dalam bentuk profil, berkomunikasi dengan kenalan, mencari kenalan baru, dll. Faktor-faktor pengendalian sosial Hirschi dimasukkan ke dalam Lapisan Interaksi Sosial ini. Faktor-faktor tersebut diperkuat melalui interaksi sosial, baik melalui interaksi antara pengguna maupun interaksi pengguna dengan teknologi.</p>
<p>Lapisan teknologi jejaring sosial adalah teknologi yang digunakan pada SJS, mulai dari aplikasi, seperti blog, berbagi musik dan video, chatting, dan personal message sampai kepada teknologi yang digunakan aplikasi-aplikasi tersebut, seperti XML, <em>semantic web</em>, <em>JavaScript</em>, <em>internet</em>, dan sebagainya. Lapisan ini memungkinkan terjadinya interaksi antar pengguna SJS. Perancangan mengajukan dua komponen teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian sosial pada SJS, yaitu Teknologi Persuasif dan Teknologi Koersif.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image5.png"><img style="display:inline;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb5.png?w=512&#038;h=326" border="0" alt="image" width="512" height="326" /></a></p>
<p><a name="_Ref243185972"><em>Gambar</em></a> 1 Model Konseptual Pengendalian Sosial pada komunitas Situs Jejaring Sosial.</p>
<p>Pengendalian sosial koersif dan persuasif sebenarnya telah dilakukan pada SJS, tetapi sebagian besar masih dilakukan melalui pendekatan konvensional, langsung dari manusia ke manusia. SJS juga telah menyediakan fasilitas untuk itu. Contoh pengendalian sosial koersif, yaitu penggunaan fasilitas <em>report abuse</em> dan <em>user block</em>. Contoh pengendalian sosial persuasif, yaitu pengguna memberikan pujian, kritik, saran, dan nasehat pada <em>content</em> yang dimiliki oleh pengguna. Pendekatan pengendalian sosial yang diusulkan pada model pengendalian sosial ini adalah penggunaan teknologi dalam melakukan koersi dan persuasi. Koersi dan persuasi dapat dilakukan oleh sistem dan dilakukan secara otomatis.</p>
<h6><a name="_Toc233616288"></a><a name="_Toc233502823"></a><a name="_Ref231620654">3.2 Faktor-faktor Ikatan Sosial pada Lapisan Interaksi Sosial</a></h6>
<p>Terdapat 3 faktor penguat ikatan sosial pada lapisan interaksi sosial, Yaitu faktor Kepercayaan Moral, Keterikatan, Kepercayaan dan Keterlibatan. Faktor kepercayaan moral (<em>moral belief</em>) adalah kepercayaan terhadap sistem nilai bersama komunitas SJS. Sistem nilai tersebut mencerminkan nilai-nilai yang dipegang oleh komunitas SJS mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, berharga dan tidak berharga. Jika sistem nilai yang dimiliki SJS kabur maka kepercayaan moral pengguna pun menjadi kabur—tidak jelas mana yang boleh dan tidak boleh.</p>
<p>Faktor keterikatan (<em>attachment</em>) dalam konteks SJS adalah keterikatan seorang pengguna dengan pengguna lainnya. Faktor ini menempatkan ikatan, jenis dan kualitas, sebagai penentu tingkat penyimpangan pengguna SJS.</p>
<p>Faktor keterlibatan (<em>involvement</em>) dan komitmen (<em>commitment</em>) menyatakan keterlibatan pengguna terhadap aktivitas-aktivitas yang dianggap baik pada SJS misalnya terlibat aktif dalam forum, dan juga komitmen terhadap tujuan-tujuan komuitas SJS. Faktor komitmen dan keterlibatan menyatakan bahwa besarnya investasi pengguna ke dalam komunitas SJS melalui kontribusi aktif positif berpengaruh negatif terhadap tingkat penyimpangan.</p>
<h6>3.3 Komponen Teknologi Persuasif</h6>
<p>Komponen Teknologi Persuasif adalah teknologi yang bekerja secara non-koersif, yaitu tidak menggunakan paksaan, tipuan, atau manipulasi [5], untuk meningkatkan kepercayaan moral, keterikatan, komitmen dan keterlibatan penggunanya sehingga tidak menyimpang.</p>
<p>Proses persuasi terjadi selama pengguna berinteraksi dengan sistem. Teknologi Persuasif bekerja dengan: (1) Memberikan pengertian dengan menjelaskan secara logis dan masuk akal manfaat yang akan diperoleh jika pengguna patuh atau melakukan penyesuaian, dan kerugian yang akan diperoleh jika pengguna melakukan penyimpangan; (2) Mengevaluasi dan memonitor kinerja pengguna sehingga pengguna merasa memegang kendali atas dirinya. (3) Memberikan saran atau anjuran melakukan aktivitas tertentu; (4) Mengingatkan apa yang akan atau sebaiknya dikerjakan; (5) Menggunakan teknik pervasif, yaitu menyampaikan pesan secara berulang-ulang sehingga tertanam di alam bawah sadar pengguna; dan (6) Cara kerjanya disesuaikan dengan natur manusia—fisik, psikis, dan sosial.</p>
<p>Untuk memperkuat argumen bahwa Teknologi Persuasif dapat digunakan untuk memperkuat faktor-faktor pengendalian sosial, beberapa contoh penerapan diberikan, yaitu: (1) Faktor kepercayaan moral—Teknologi Persuasif dapat mengubah sikap penggunanya sampai kepada tingkat kepercayaan moral. Misal: Quitnet.com<a name="_ftnref3_6982" href="#_ftn3_6982">[3]</a> memotivasi penggunanya berhenti merokok dan <em>Baby Think It Over<a name="_ftnref4_6982" href="#_ftn4_6982"><strong>[4]</strong></a></em>, boneka untuk mencegah remaja hamil muda. (2) Faktor keterikatan—Teknologi Persuasif memperkuat faktor ikatan dengan mendorong pengguna SJS berinteraksi dengan jejaringnya. Beberapa elemen pada Facebook telah dirancang untuk mendorong penggunanya saling berinteraksi [4], misalnya fasilitas <em>Status </em>dan<em> Quiz</em> mendorong pengguna saling berkomentar pada status dan hasil <em>Quiz</em> satu sama lain. (3) Faktor komitmen dan keterlibatan—Teknologi Persuasif mendorong pengguna menginvestasikan dirinya ke dalam komunitas SJS. Beberapa forum (misalnya Kaskus.us) menggunakan sistem penghargaan, semacam ‘terima kasih’ atau ‘pujian’ bagi pengguna yang berkontribusi positif. Ini memberikan kesan investasi mereka di forum tidaklah sia-sia.</p>
<h6><a name="_Toc233616289"></a><a name="_Toc233502824"></a><a name="_Ref231620656">3.4 Komponen Teknologi Koersif</a></h6>
<p>Yang dimaksud dengan Teknologi Koersif adalah pendekatan koersif untuk mengurangi penyimpangan dengan menggunakan teknologi. Koersif berarti pemaksaan fisik maupun psikologis, atau membuat lingkungan seideal mungkin sehingga mengurangi atau menghilangkan kemungkinan terjadinya penyimpangan walaupun keinginan menyimpang tetap ada. Ide teknologi ini pada [11], mengenai penggunaan teknologi pada Rekayasa Pengendalian Sosial. Teknologi Koersif bekerja tanpa harus berinteraksi dengan pengguna secara langsung. Teknologi Koersif bekerja dengan menggunakan data karakteristik pengguna yang dikumpulkan selama aktivitasnya di SJS dan digunakan untuk mengidentifikasi, mengawasi, membatasi, memanipulasi, memaksa, hingga mengeliminasi penyimpangan pada SJS. Komponen Teknologi Koersif diperlukan karena tidak bisa diharapkan bahwa semua pengguna akan mematuhi aturan dan norma SJS. Teknologi Koersif juga sangat berguna jika faktor-faktor pengendalian sosial komunitas lemah, di mana pengawasan antar pengguna tidak berjalan dengan baik.</p>
<p>Yohannis menemukan bahwa penyimpang pada SJS memiliki atribut-atribut yang membedakan mereka dari bukan penyimpang [18]. Ada prospek menggunakan atribut-atribut tersebut untuk identifikasi dan pengawasan SJS.</p>
<h3><a name="_Toc233616295"></a><a name="_Toc233502830">4. Rekomendasi</a></h3>
<p>Berdasarkan penelitian yang dilakukan yang dibuat dan model yang diajukan pada makalah ini, beberapa rekomendasi diberikan yang dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu peran <em>stakeholder</em>, strategi organisasi, dan implikasi perancangan.</p>
<p>4.1.1 Peran <em>Stakeholders</em></p>
<p>Pemilik SJS bertanggung untuk mendefinisikan latar belakang dan tujuan SJS, nilai-nilai dan norma yang berlaku pada SJS, hingga kepada bentuk formalnya. Pemilik SJS juga bertanggung jawab menetapkan strategi pengendalian sosial yang tepat bagi SJS-nya.</p>
<p>Pengembang SJS adalah pihak yang membangun SJS. Pengembang SJS bertanggung jawab merancang dan menyediakan teknologi demi terwujudnya strategi dan tujuan yang ditetapkan oleh pemilik SJS dalam rangka pengendalian sosial.</p>
<p>Komunitas SJS adalah pengguna SJS dan mereka dapat dilibatkan dalam usaha pengendalian sosial. Mereka memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi positif bagi pembangunan komunitas SJS, termasuk mematuhi peraturan penggunaan dan turut serta dalam pengendalian sosial, saling mengawasi satu sama lain.</p>
<p>4.1.2 Strategi Organisasi</p>
<p>Karena nilai-nilai memiliki peran yang sentral bagi komunitas, maka pada tingkat strategi organisasi, diperlukan memperjelas nilai-nilai pada SJS: termasuk mendefinisikan latar belakang dan tujuan SJS, sistem nilai, norma-norma, hingga wujud formalnya berupa aturan penggunaan SJS, dan dipertegas melalui sosialisasi dan edukasi pengguna.</p>
<p>Strategi pengendalian sosial komunitas SJS juga perlu dibuat. Strategi pengendalian sosial dapat dilakukan melalui integrasi sosial dan penggunaan teknologi. Teknologi Persuasif dapat digunakan untuk mendukung faktor-faktor pengendalian sosial. Pada kondisi di mana integrasi sosial lemah dan pengendalian diri kurang, kehadiran Teknologi Koersif sangat penting karena kita tidak bisa mengharapkan pengguna SJS saling mengendalikan satu sama lain.</p>
<p><a name="_Toc233616296"></a><a name="_Toc233502831"></a><a name="_Ref230696609">4.1.3 Implikasi Perancangan</a></p>
<p>Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan [18][19] dan model Pengendalian Sosial yang dikemukakan pada makalah ini, beberapa implikasi perancangan diajukan, yaitu:</p>
<p>1.) Perlunya memperhitungkan nilai-nilai dalam perancangan SJS, khususnya nilai-nilai moral. SJS sebaiknya memiliki rancangan yang dapat memperkuat faktor-faktor kepercayaan moral, keterikatan, dan komitmen dan keterlibatan, jika hendak melakukan pengendalian sosial melalui pendekatan integrasi sosial. <em>Value Sensitive Design</em> [7] dapat digunakan untuk melibatkan nilai-nilai moral dalam perancangan SJS.</p>
<p>2.) Teknologi Persuasif dapat dimanfaatkan untuk memperkuat faktor kepercayaan moral, keterikatan, dan komitmen dan keterlibatan pengguna. Teknologi tersebut ditujukan untuk mengubah sikap dan perilaku pengguna terhadap faktor-faktor tersebut.</p>
<p>3.) Perlunya memfasilitasi komunitas melakukan pengendalian sosial karena komunitas SJS juga (dapat) melakukannya. Saat ini, mereka dapat melakukan pengendalian sosial informal melalui fasilitas komunikasi yang ada, seperti <em>personal message</em>, <em>comment</em>, atau <em>chat</em>, atau juga melalui fasilitas yang khusus dirancang untuk pengendalian sosial, seperti <em>report abuse</em>, <em>block users</em>, dan <em>reputation building</em>.</p>
<p>4.) Karena faktor keterikatan penting dalam pengendalian sosial dan [2][6][18] menemukan makna label pertemanan di dunia maya tidak sama dengan makna pertemanan di dunia nyata, maka dua sikap direkomendasikan, yaitu: (a) Sikap yang pertama, situs jejaring sosial tidak lebih dari sekedar alat atau perluasan buku telpon yang memuat berbagai informasi tentang orang-orang yang berada pada daftar teman. Dengan demikian arti kata teman bertambah satu lagi, yaitu teman pada jejaring sosial. (b) Sikap kedua, memberikan makna terhadap setiap ikatan yang terbentuk pada SJS. Makna ikatan dapat diperjelas dengan membuat arti ikatan tidak berstatus tunggal, tetapi perlu diperkaya dalam jenis (teman, keluarga, rekan kerja) dan kualitasnya (kenalan, teman, teman dekat) [2][6] [18]. Makna tersebut diharapkan bukan hanya sekedar variasi pemberian nama pada label ikatan, tetapi benar-benar merepresentasikan makna label ikatan tersebut. Makna ikatan juga dapat diperjelas dengan memberikan alasan dibalik interaksi mereka, misalnya interaksi karena persamaan hobi.</p>
<p>5.) Karena komitmen dan keterlibatan soial merupakan faktor penting bagi pengendalian social, diusulkan perlunya: (a) Mendorong pengguna menginvestasikan diri ke dalam SJS dengan menerapkan sistem penghargaan, pembangunan reputasi, atau menekankan keuntungan yang akan mereka peroleh jika mereka menginvestasikan diri pada SJS. (b) Mengintegrasikan SJS dengan SJS, forum, atau blog lain. Dengan melakukannya, pengguna tidak perlu berluang-ulang berinvestasi sosial jika hendak bergabung dengan aplikasi sosial baru. Keterlibatan mereka di berbagai aplikasi sosial dapat digabungkan dan dimonitor untuk menilai investasi sosial pengguna secara keseluruhan.</p>
<p>6.) Menggunakan perbedaan karakteristik penyimpang dan bukan penyimpang untuk identifikasi dan pengawasan. Dengan menggunakan karakteristik tersebut, penyimpang dapat diidentifikasi, diawasi, dan dieliminasi jika diperlukan.</p>
<p>7.) Karena adanya keragaman nilai yang dimiliki oleh para pengguna SJS dan sukarnya menentukan apakah <em>content</em> dianggap menyimpang atau tidak oleh pengguna, maka dapat dilakukan personalisasi <em>content</em> berdasarkan nilai-nilai yang pengguna miliki (<em>personalized contents based on user values</em>). <em>Contents</em> yang ditampilkan pada pengguna SJS hanyalah <em>contents</em> yang sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>5. Penutup</h3>
<p>Penelitian ini merancang suatu model pengendalian sosial pada SJS. Model dapat dijadikan sebagai referensi bagi implementasi pengendalian sosial pada komunitas SJS. Model pengendalian sosial terdiri dari dua lapisan, yaitu lapisan teknologi jejaring sosial dan lapisan interaksi sosial. Pada lapisan sosial, terdapat 3 faktor penentu penyimpangan, yaitu kepercayaan moral, keterikatan, dan komitmen dan keterlibatan. Pada lapisan teknologi, terdapat 2 komponen, yaitu Teknologi Persuasif dan Teknologi Koersif. Model pengendalian sosial pada komunitas SJS yang dirancang pada penelitian ini masih perlu diuji lebih lanjut, misalnya melalui simulasi atau penerapan pada kondisi dunia nyata.</p>
<p>Model pengendalian sosial pada komunitas SJS yang diusulkan pada penelitian ini bukanlah model yang statis. Model dapat dikembangkan lebih lanjut dengan penambahan lapisan baru, faktor-faktor pengendalian sosial baru, atau komponen-komponen lain pada lapisan teknologi. Pada perancangan model, aspek-aspek pengendalian sosial, seperti preventif, represif, punitif, korektif, kompulsif, pervasif, formal, dan informal, belum diperhitungkan. Oleh karena itu, penelitian mengenai aspek-aspek pengendalian sosial dalam konteks SJS dan bagaimana mengintegrasikan aspek-aspek tersebut ke dalam model masih perlu dilakukan.</p>
<h3>Daftar Pustaka</h3>
<p><a name="_Ref244530358">[1] Aquisti, A., &amp; Gross, R.</a>, 2006, <em>Imagined Communities: Awareness, Information Sharing, and Privacy on the Facebook</em>, dalam P. Golle, &amp; G. Danezis (Penyunt.), Proceedings of 6th Workshop on Privacy Enhancing Technologies (hal. 36-58), Cambridge, U.K: Robinson College.</p>
<p><a name="_Ref244530386">[2] Boyd, D. M.</a>, 2004, <em>Friendster and Publicly Articulated Social Networks</em>, Proceedings of ACM Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI 2004), 1279-1282.</p>
<p><a name="_Ref244530307">[3] Boyd, D. M., &amp; Ellison, N. B.</a>, 2007, <em>Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship</em>, Dipetik September 20, 2008, dari Journal of Computer-Mediated Communication: http://jcmc.indiana.edu/vol13/issues1/ boyd.ellison.html</p>
<p><a name="_Ref244531367">[4] Enrique., 2008, Dipetik Mei 18, 2009, dari http://credibility.stanford.edu/captology/notebook/archives.new/psychology_of_facebook</a></p>
<p><a name="_Ref244530748">[5] Fogg, B. J., Cueller, G., &amp; Danielson, D., 2008, <em>Motivating, Influencing, and Persuading Users: An Introduction to Captology</em></a>, dalam A. Seears, &amp; J. A. Jacko, The Human–Computer Interaction Handbook: Fundamentals, Evolving Technologies, and Emerging Applications (2nd Edition ed., hal. 133-144, Oxon &amp; New York: Lawrence Erlbaum Associates Taylor &amp; Francis Group.</p>
<p><a name="_Ref244530394">[6] Fono, D., &amp; Kate, R. G., 2006, <em>Hyperfriends and Beyond: Friendship and Social Norms on LiveJournal</em>, M. Consalvo, &amp; Haythornthwaite, Penyunt.) Internet Research Annual: Selected Papers from the AOIR Conference , 4, hal. 91-103.</a></p>
<p><a name="_Ref244530683">[7] Friedman, B., Khan Jr., P. H., &amp; Borning, A., 2008, <em>Value Sensitive Design and Information System</em></a>, dalam K. E. Himma, &amp; H. T. Tavani, The Handbook of Information and Computer Ethics (hal. 69-101, New Jersey: John Wiley &amp; Sons.</p>
<p><a name="_Ref244530137">[8] Kling, R., 1999, <em>What is Social Informatics and Why Does it Matter?</em> Dipetik Juni 18, 2009, dari www.dlib.org: http://www.dlib.org/dlib/ january99/kling/01kling.html</a></p>
<p><a name="_Ref244530622"></a><a name="_Ref244531665">[9] Larsen, M. C., 2007, <em>Understanding Social Networking: On Young People&#8217;s Construction and Co-construction of Identity Online</em></a>, Internet Research 8.0: Let&#8217;s Play<em>.</em> Vancouver: Association of Internet Researchers.</p>
<p>[10] Longshore, D., Chang, E., &amp; Messina, N., 2005, <em>Self-Control and Social Bonds: A Combined Control Perspective on Juvenile Offending</em>, Journal of Qualitative Criminology , 21 (4), December.</p>
<p><a name="_Ref244530798">[11] Marx, G. T., 2001, <em>Technology and Social Control: The Search for the Illusive Silver Bullet</em>. Dipetik Agustus 26, 2008, dari web.mit.edu: http://web.mit.edu/gtmarx/www/techandsocial.html</a></p>
<p><a name="_Ref244530329">[12] Ofcom., 2008, <em>Social Networking: A Quantitative and Qualitative Research Report into Attitudes, Behaviours, and Use</em></a>, England: Office of Communication.</p>
<p><a name="_Ref244530344">[13] Ryano, A., 2009, <em>Bridging Theories and Applications: Learn from Social Networking Sites Issues</em>, National Conference of Information System 2009, Yogyakarta, Indonesia, January 17, 2009.</a></p>
<p><a name="_Ref244530232">[14] Sawyer, S., &amp; Tyworth, M., 2006, <em>Social Informatics: Principles, Theory, and Practice.</em>, J. Berleur, M. I. Numinen, &amp; J. Impagliazzo, Penyunt.) IFIP Federation of Information Processing , 233 (Social Informatics: An Information Society for All? In Remembrance of Rob Kling), hal. 49-62.</a></p>
<p><a name="_Ref244530576">[15] Stolley, K. S.</a>, 2005, <em>The Basic of Sociology</em>, U.S.A: Greenwood Press.</p>
<p><a name="_Ref244530367">[16] Tufekci, Z.</a>, 2008, <em>Can You See Me Now? Audience and Disclosure Management in Online Social Network Site</em>. Bulletin of Science and Technology Studies.</p>
<p><a name="_Ref244530529">[17] Welch, M. R., Tittle, C. R., Yonkovski, J., Meidinger, N., &amp; Grasmick, H. G.</a>, 2008, <em>Social Integration, Self-Control dan Conformity</em>, Journal of Quantitative Criminology , 24, hal. 73-92.</p>
<p><a name="_Ref244531008">[18] Yohannis, A.R. and Sastramihardja, H., 2009, <em>Recognizing Deviants in Social Networking Sites: Study Case Fupei.com</em>, International Congress of Electrical Engineering and Informatics 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, August 5-7 2009.</a></p>
<p><a name="_Ref244531009">[19] Yohannis, A.R.</a>, 2009, <em>Designing Conceptual Model of Social Control on Social Networking Site Communities (Case Study Fupei.com and Kombes.com)</em>, Master Thesis, Master of Informatics, School of Electrical Engineering and Informatics, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1_6982" href="#_ftnref1_6982">[1]</a><a href="http://www.detikinet.com/read/2009/01/13/120432/1067514/398/penjaja-seks-virtual-banjiri-second-life">http://www.detikinet.com/read/2009/01/13/120432/1067514/398/penjaja-seks-virtual-banjiri-second-life</a>, diakses tanggal 13 Januari 2009</p>
<p><a name="_ftn2_6982" href="#_ftnref2_6982">[2]</a><a href="http://www.detikinet.com/read/2008/10/11/131505/1018540/398/rasisme-merebak-di-facebook">http://www.detikinet.com/read/2008/10/11/131505/1018540/398/rasisme-merebak-di-facebook</a>, diakses 11 Oktober 2008.</p>
<p><a name="_ftn3_6982" href="#_ftnref3_6982">[3]</a> <a href="http://quitnet.com">http://quitnet.com</a> diakses 5 Mei 2009</p>
<p><a name="_ftn4_6982" href="#_ftnref4_6982">[4]</a> <a href="http://www.realityworks.com/realcare/realcarebaby.html">http://www.realityworks.com/realcare/realcarebaby.html</a> diakses 5 Mei 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=39&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-model-awal-dan-beberapa-rekomendasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image001_thumb.gif" medium="image">
			<media:title type="html">clip_image001</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image002_thumb.gif" medium="image">
			<media:title type="html">clip_image002</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb5.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Recognizing Deviants in Social Networking Sites: Case Study Fupei.com</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/recognizing-deviants-in-social-networking-sites-case-study-fupei-com/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/recognizing-deviants-in-social-networking-sites-case-study-fupei-com/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 13:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[deviance]]></category>
		<category><![CDATA[deviant characteristics]]></category>
		<category><![CDATA[social networking sites]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/recognizing-deviants-in-social-networking-sites-case-study-fupei-com/</guid>
		<description><![CDATA[Draft paper for International Conference of Electrical Engineering and Informatics, 5th-7th August 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia. The draft paper can be downloaded here: Draft ICEEI 2009 &#8211; Alfa Ryano. Or you can download it from IEEE. Recognizing Deviants in Social Networking Sites: Case Study Fupei.com Alfa R. Yohannis1, Husni Sastramihardja2 School of Electrical [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=32&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Draft paper for International Conference of Electrical Engineering and Informatics, 5th-7th August 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia. The draft paper can be downloaded here: <a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/draft-iceei-2009-alfa-ryano.pdf">Draft ICEEI 2009 &#8211; Alfa Ryano.</a> Or you can download it from <a href="ieeexplore.ieee.org/iel5/5235860/5254768/05254831.pdf?arnumber=5254831">IEEE</a>.<br />
</em></p></blockquote>
<p><strong>Recognizing Deviants in Social Networking Sites: Case Study Fupei.com</strong></p>
<p>Alfa R. Yohannis<sup>1</sup>, Husni Sastramihardja<sup>2</sup></p>
<p>School of Electrical Engineering and Informatics, Bandung Institute of Technology<br />
Ganesa 10 Bandung, Indonesia</p>
<p><sup>1</sup>alfaryano@students.itb.ac.id</p>
<p><sup>2</sup>husni@informatika.org</p>
<p><strong>Abstract</strong>— In the last few years, Social Networking Sites (SNSs) have grown rapidly as a new media used by people to create and maintain relationship. Ironically, Social Network Sites are also used to do deviant behaviors, i.e. pornography, racism, predators, and fake profiles. A need then emerges to reduce those deviances. This research tries to recognize the deviants based on their characteristics. Descriptive and inferensial statistics are used to seek out the differences between deviants and nondeviants on certain attributes. Analysis finds the deviants and nondeviants are significantly different on certain attributes and not on some attributes. Some of those findings confirm the theories of deviance. Based on the findings, several design implications are proposed. A social control system then issued in order to reduce deviances in SNS.</p>
<p><strong>Keywords</strong>— social networking sites, deviance, deviant characteristics</p>
<p><span id="more-32"></span></p>
<h3>I. Introduction</h3>
<p>Currently, SNSs has become an integral part of teenagers’ and young adults’ life [7] [8] [12]. SNSs are used for fun and entertainment, maintaining existing relationships, finding old friends, building new relationships, building self confidence, leveraging social issues, and even be someone else [7] [8] [12]. But just like other technology products, SNS can also be misused, e.g. spending too much time in the SNS, using profiles to promote self excessively, deception through SNS, and for misbehavior [9] such as pornography, racism, fake profiles, and hoax (hereinafter referred to as deviance). One thing worth to concern is most of SNS users come from the adolescents which are vulnerable to fraud and crime. It seems SNS has now become a dangerous playground garden for them. From these backgrounds, there is a need to reduce the deviance so SNS can be a fun, safe, and convenient place for users to play.</p>
<p>As part of Social Informatics that studies the social aspect of ICT use, this research tries to investigate deviants and nondeviants based on their characteristics, in the context of SNSs. By doing this, the significance characters attached to the deviants can be known and may be used to characterize and recognize deviants. For that, techniques and descriptive statistics inferensial are used. In research, Fupei.com—one of Indonesia SNSs—are chosen as case study.</p>
<p>Results show deviants have significant differences from non deviants in some characteristics as follows: deviants tend to have shorter active time, more profiles viewed, more messages received than deviants do. In addition, deviants are also not significantly different from nondeviants on several characteristics; deviants tend to have more friends and less involvement on forum and blog than nondeviants do. Deviants also tend to express themselves not bound by marriage, join SNS to seek dating partner, their locations are unreachable or concealed, and their profiles tend to contains more taboo words than nondeviants’ profiles.</p>
<p>This paper begins with introduction. Next, as the basis of research, SNS and some of the theory relating to the deviance and social control are described in section 2. In section 3, methods of research presented to explain how research is done. Section 4 contains the results of analysis and discussion. Section 5 proposes the design implications. In section 6, this paper is closed with conclusion.</p>
<h3>II. Background</h3>
<p>Social Network Sites defined by Boyd and Ellison [3] as a site that provides a web-based service that allows users to (1) build a public profile or semi-public in a limited system, (2) displays a list of friends (other users ) through which users can share a mutual relationship, and (3) and show their list of relationships. Ofcom [8] defines social networking sites as sites that provide services for users to create a personal page, and build online social networking. Profile page contains personal information (name, sex, religion, hobbies, etc.) In addition, social networking sites also provide page customizing, photo, video, and music sharing. User can build social network which can be displayed in as a form of friends list. People in the list could be their friend or acquaintance in the real world, or those who they only know online, or even who they do not know at all. Some users use the facilities owned by SNS as an opportunity to do deviance. Therefore, social control is necessary to reduce these deviances.<br />
Social control is the effort to bring a community to compliance and adjustment based on values or norms that apply [10], while deviance is the behavior that deviate from values and norms [11]. People who deviate called deviants.</p>
<p>In social science, deviants have certain characteristics distinguish them from non-deviants. Hirschi (1969) and Sampson and Laub (1990) in [6] [9] [13] states that deviants tend to have a weak social bond. Deviants are also not likely to engage in activities that are conventional or well considered by society, such as education, sports, and religious activities. Lack of socialization reduce deviants attachment to their groups, this will also reduce their groups abilities to provide physical and psychological control to them (Hirschi, 1969; Horwitz, 1990) in [6] [9] [13]. As a result, deviants are less likely to have a bet in conformity, and tend to be different, are not sensitive to, and ignore the opinions of others (Gottfredson and Hirschi, 1990) in [6] [9] [13]. Deviants also tend to have values and culture that deviate from the main culture (subculture), for example, pornography is well accepted by the deviants but is considered taboo by the society in general [9] [13] [11]. Demetriou and Silke (2003) in [11] found that the anonymity provided by the Internet can be the main factors that support deviance in cyberspace. Their research shows that those who believe that their identity hidden are likely to behave aggressively, such as taking the opportunity provided to download pirated software. The characteristics are then used as a basis to analyze and explain the results.</p>
<h3>III. Method</h3>
<p>The data acquisition from Fupei.com was held on 23 December 2008 and 10 March 2009. 98.323 user profiles and other data are obtained, Sensitive data, such as personal identity: name, address, email, and phone numbers, are not included in order to maintain user privacy. Next, data cleaning is performed which then left 87.418 user profiles. This number of profiles is referred to as population. In this population there were 73 users who are banned from SNS, hereinafter referred to as deviants (deviant users). The rest, 87.345 profiles, referred to as nondeviants (nondeviant users).</p>
<p><a name="_Ref233204645">Table </a>1. Comparison of mean, median, and Mann-Whitney between deviants and nondeviants.</p>
<table style="width:640px;height:394px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="621"></td>
</tr>
<tr>
<td width="120"><strong>Group</strong></td>
<td width="105"><strong>Active Duration</strong></td>
<td width="127"><strong>Number of Times Profile seen</strong></td>
<td width="109"><strong>Number of Friends</strong></td>
<td width="161"><strong>Number of Messages received</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="50" valign="top"><strong>Mean</strong></td>
<td width="55" valign="top"><strong>Median</strong></td>
<td width="56" valign="top"><strong>Mean</strong></td>
<td width="71" valign="top"><strong>Median</strong></td>
<td width="52" valign="top"><strong>Mean</strong></td>
<td width="57" valign="top"><strong>Median</strong></td>
<td width="85" valign="top"><strong>Mean</strong></td>
<td width="76" valign="top"><strong>Median</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="120"><em>Deviant</em></td>
<td width="50">94,49</td>
<td width="55">12</td>
<td width="56">198.,3</td>
<td width="71">125</td>
<td width="52">21,71</td>
<td width="57">0</td>
<td width="85">15,51</td>
<td width="76">5</td>
</tr>
<tr>
<td width="120"><em>Non-deviant</em></td>
<td width="50">97,93</td>
<td width="55">1</td>
<td width="56">66,59</td>
<td width="71">17</td>
<td width="52">10,81</td>
<td width="57">1</td>
<td width="85">5,19</td>
<td width="76">1</td>
</tr>
<tr>
<td width="120"><strong><em>Mann-Whitney</em></strong><em> </em></td>
<td width="105">2386962,00</td>
<td width="127">1121173,50</td>
<td width="109">2890208,00</td>
<td width="161">1534242,50</td>
</tr>
<tr>
<td width="120"><strong><em>p-value</em></strong></td>
<td width="105">0,00*</td>
<td width="127">0,00*</td>
<td width="109">0,14</td>
<td width="161">0,00*</td>
</tr>
<tr>
<td width="621" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>*significance level α &lt;0,01; Number of deviance = 73 profiles, Number of nondeviants = 87.345 profiles</p>
<p>By employing Mann-Whitney Test, the significant differences between deviants and nondeviants can be obtained. Mann-Whitney tests whether two samples come from the same population or not. Mann-Whitney was selected because the data does not normally distributed. Mann-Whitney Test performed on the attributes of age, active duration, the number of times a profile seen by other users, number of friends, age, number of messages received from other users, and involvement on blogs and forums.</p>
<p>For sex, marital status, intention to join SNS, user location, and profiles that contain taboo terms attributes, descriptive statistics is used. The deviants and the nondeviants are compared based on the relative frequency of occurrence on each attributes (in percent).</p>
<h3>IV. Results and Discussion</h3>
<p>In this section, results of analysis are presented and discussed.</p>
<h4>A. Active Duration</h4>
<p>Active Duration is the duration of time from the time a user registers himself to SNS until the last time he login. Results in <strong>Table 1 </strong>show that there is a significant difference (<em>p-value</em> = 0.00*) between deviants and nondeviants on the characteristic of active duration. The average of deviants’ active time (94.49 days) is shorter than the average of nondeviants’ active time (97.93 days). It seems, investing time to create and maintain relationships is not deviants’ main priority, moreover to be loyal users. Possibly, they join SNS for other purposes.</p>
<h4>B. Number of Times Profile Seen by Other Users</h4>
<p>Results in <strong>Table 1</strong> show that there is a significant difference (0.00) between deviants and nondeviants on the number of times profile seen by other users. The number of times deviants’ profiles seen by other users (198.3 times) is higher than the number of times nondeviants’ profiles seen by other users (66.59 times). Possibly, because of the attractiveness of their profiles, deviants’ profiles are more often seen by others than nondeviants’ profiles.</p>
<h4>C. Number of Messages Received</h4>
<p>Results in <strong>Table 1</strong> shows that there is a significant different (0.00*) between deviants and nondeviants on the number of messages they received from other users. The average number of message received by deviants (15.51 messages) is higher than the average number of message received by nondeviants (5.19 messages). Probably, deviants receive more messages because they present themselves interesting to attract other users.</p>
<h4>D. Number of Friends</h4>
<p>Results in <strong>Table 1</strong> show that there is no significant different (0.14) between deviants and nondeviants on the number of friends. The average numbers of deviants’ friends (21.71 profiles) are relatively higher than average number of nondeviants’ friends (10.81 profiles). These findings are in contradiction with the theory of social control which states deviants are socially less integrated than nondeviants. It means deviants should have fewer friends than nondeviants.</p>
<p>To illuminate this contradiction, active duration and number of friends of deviants and nondeviants are compared. The average of deviants’ active duration (94,49 days) is shorter than the nondeviants’ active duration (97.93 days), but deviants has higher average number of friends (21,71 friends) higher than non deviants has (10,81 friends).It seems that deviants tend to collect more friends in shorter duration than nondeviant does.</p>
<p>This research then decided to test the correlation between active duration and number of friends using Spearman Correlation Test. The correlation test results deviants’ correlation (cor = 0.517; sig = 0.00; α = 0.01) is lower than nondeviants’ ((cor = 0.625; sig = 0.00; α = 0.01). This finding shows deviants’ number of friends is less predictable than nondeviants’ number of friends.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image1.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb1.png?w=580&#038;h=580" border="0" alt="image" width="580" height="580" /></a></p>
<p><a name="_Ref233204101">Figure </a>1. Deviants friendship network.</p>
<p>Explanation can be given is friendship on SNS is not like friendship in the real world. In SNS, a user can be other users’ friend easily just by sending a friendship request to a receiver and the receiver just authorize the request. There is possibility deviants are more active in sending friendship request and the receiver easily authorizes the request. To strengthen the hypothesis, deviants friendship network are visualized using Pajek 1.23 (see Figure 1). Visualization only visualizes deviants and their friends which have degree (number of relationship) higher than one. Deviants also make a friend with popular users (dark green and purple) and other users (other colors). This finding shows friendship in SNS is not like in the real world, where in SNS, deviants are also friends of popular and other users.</p>
<h4>E. Participation in Forum and Blog</h4>
<p>To recognize deviants participation in forum and blog, analysis uses friendfeed data started from May 15th 2008 to March 10th 2009. From the data, there are 30.468 user profiles which consist of 54 deviants and 30.414 nondeviants. From analysis (see Table 2), it is found that the deviants never participate in forum or blog (mean = 0.00 times, median = 0.00 times). For the nondeviants, 1.75% of them participate in forum (mean = 0.08 times, median = 0.00 times) and 1.53% of them participate in blog (mean = 0.08 times, median = 0.00 times). Using Mann-Whitney, it is found that there is no significant difference between deviants and nondeviants on their participation in forum (0.33) or blog (0.36).</p>
<p>If blog and forum are assumed as involvement on SNS, then the finding which states deviants never participate in forum or blog confirms one of social control theory statements; deviants are lack of social investment. However, the difference between deviants and nondeviants are not significant. Explanation can be given is forum and blog are not interesting and suitable avenues for investment according to users’ perspective.</p>
<p><a name="_Ref233204755">Table </a>2. Significances of difference between deviants and nondeviants based on their number of participation in forum or blog.</p>
<table style="width:498px;height:242px;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="26%"><strong>Group</strong></td>
<td width="38%"><strong>Blog</strong></td>
<td width="35%"><strong>Forum</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="17%" valign="top"><strong>Mean</strong></td>
<td width="20%" valign="top"><strong>Median</strong></td>
<td width="16%" valign="top"><strong>Mean</strong></td>
<td width="19%" valign="top"><strong>Median</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="26%"><em>Deviant</em></td>
<td width="17%">0,00</td>
<td width="20%">0,00</td>
<td width="16%">0,00</td>
<td width="19%">0,00</td>
</tr>
<tr>
<td width="26%"><em>Non-deviant</em></td>
<td width="17%">0,08</td>
<td width="20%">0,00</td>
<td width="16%">0,08</td>
<td width="19%">0,00</td>
</tr>
<tr>
<td width="26%"><strong><em>Mann-Whitney</em></strong><em> </em></td>
<td width="38%">806767,00</td>
<td width="35%">808596,00</td>
</tr>
<tr>
<td width="26%"><strong><em>p-value</em></strong><em> </em></td>
<td width="38%">0,33</td>
<td width="35%">0,36</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><a name="_Ref230932754">*Number of deviants = 54 profiles, number of nondeviants = 30.414 profiles</a></p>
<h4>F. Marital Status</h4>
<p>Figure 2 shows that 76.71% deviants state themselves as single (higher 12.7% than nondeviants), 6.85% deviants state themselves are in serious relationship (lower 6.34% than nondeviants), and only 4.11% which are married (lower 6.34% percent than nondeviants). The rest 12.33% deviants conceal their marital status (lower 0.98% than nondeviants). This findings show deviants tend to present themselves as single or likely untied to emotional and traditional bond.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image2.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb2.png?w=474&#038;h=382" border="0" alt="image" width="474" height="382" /></a></p>
<p><a name="_Ref233204125">Figure </a>2<a name="_Toc229033330"></a>. Persentase jumlah deviants and bukan deviants berdasarkan status marital.</p>
<h4>G. Intention to Join SNS</h4>
<p>Figure 3 shows deviants join SNS with intention to find date partners or to start serious relationships. 63.01% deviants intend to find date partners, 31.82% higher than nondeviant, and 65.75% deviants intend to start serious relationships, 38.83% higher than nondeviants do. These contradict with nondeviants’ intention joins SNS to find friends (66.58%) and is relatively low on finding date partners (31.19%) or starting new serious relationships (26.92%). There is an assumption that deviants tend to find date partners and to start serious relationship are strongly related to sexual misbehavior. These show us the deviants tend to be different from nondeviants on the intention of using SNS.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image3.png"><img style="display:inline;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb3.png?w=438&#038;h=332" border="0" alt="image" width="438" height="332" /></a></p>
<p><a name="_Ref233204134">Figure </a>3. Percentage of deviants and nondeviants based on their intention joining SNS.</p>
<h4>H. Location</h4>
<p>Figure 4 shows the percentage of deviants’ location, which 27.40% deviants conceal their origin location or use idioms which can’t be understand clearly (misal: “above earth”). 24,66% deviants state themselves are from Afrika, 15,07% deviants are from North America, 4.11% deviants are from Europe, and the rest 28.77% deviants are from Indonesia. If combined, most of the deviants (71.23%) declare themselves are from outside Indonesia (43.84%) or unidentifiable (27.40%). It seems there is tendency deviants declare their locations are far away from Indonesia or unidentifiable to give sense of untouchable. This state gives them freedom to deviate.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image4.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb4.png?w=439&#038;h=287" border="0" alt="image" width="439" height="287" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><a name="_Ref233204145">Figure </a>4<a name="_Toc229033332"></a>. Percentage of deviants based on their locations.</p>
<p>As comparison, Table 3 shows Top 10 countries based on users location. From Table 3 Indonesia (90.99%) is in the first place, followed by U.S. (2.38%) in the second place. In contradiction to Figure 4, Two African countries (Ghana and Nigeria) in Table 3, their amount does not reach 0.5%. while in Figure 4 Africa reaches 24.66%.</p>
<p><a name="_Ref233204709">Table </a>3. <a name="_Ref230931654">Top ten countries based on users’ location </a></p>
<div>(Fupei.com report, December 23rd, 2008).</div>
<div>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"><strong>No.</strong></td>
<td valign="top"><strong>Country</strong></td>
<td valign="top"><strong>Percentage</strong></td>
<td valign="top"><strong>Total</strong></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">1.</td>
<td valign="top">Indonesia</td>
<td valign="top">90.99%</td>
<td valign="top">82520</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">2.</td>
<td valign="top">U.S.</td>
<td valign="top">2.38%</td>
<td valign="top">2158</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">3.</td>
<td valign="top">Malaysia</td>
<td valign="top">0.72%</td>
<td valign="top">651</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">4.</td>
<td valign="top">Philippines</td>
<td valign="top">0.51%</td>
<td valign="top">460</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">5.</td>
<td valign="top">India</td>
<td valign="top">0.48%</td>
<td valign="top">431</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">6.</td>
<td valign="top">U.K.</td>
<td valign="top">0.32%</td>
<td valign="top">291</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">7.</td>
<td valign="top">Japan</td>
<td valign="top">0.29%</td>
<td valign="top">259</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">8.</td>
<td valign="top">Egypt</td>
<td valign="top">0.24%</td>
<td valign="top">215</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">9.</td>
<td valign="top">Ghana</td>
<td valign="top">0.22%</td>
<td valign="top">201</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">10.</td>
<td valign="top">Nigeria</td>
<td valign="top">0.22%</td>
<td valign="top">195</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><em> </em></p>
<h4>I. Number of Profiles Contain Taboo Words</h4>
<p>Characterizing deviants and nondeviants also performed based on number of profiles which contain taboo words (Figure 5). On the user profile there are fields which contain information about user interest and his school (some fields such as hobbies, favorite movies, books, TV shows, food, and drinks are not given by Fupei.com). Using these fields, profiles which contain taboo words are then counted. The results are 12.32% of deviants’ profiles contain taboo words and only 1.05% of nondeviants’ profiles contain taboo words. This results show the percentage of profiles which contain taboo words is likely higher on deviants than nondeviants.</p>
<p><a name="_Ref233204177">Figure </a>5. Percentage of number of profiles contain taboo words between deviants and nondeviants.</p>
<p>Some of the findings confirm the social control theory which stated deviants have certain characteristics stick on them. Deviants tend to be different on their purpose of using SNS. Deviants don’t use friendship SNS to find friends, but more to find partner for dating or serious relationship. Deviants also tend to present themselves socially untied, both emotional and conventional bonds (in relationship or marriage). Deviants tend to have subcultures, i.e. having taboo words on their profiles. It seems deviants don’t invest themselves into SNS community, such as participation in forum or blog. Deviants tend to present sense of unreachable which indicated by their locations are far and outside Indonesia or they enclosed their locations. This sense is close related to anonymity which gives them more freedom to deviate. In addition, deviants tend to attract other users intention indicated by the number of messages they received and the number of their profiles seen by other users are higher than nondeviants.</p>
<h3>V. Design Implication</h3>
<p>In SNS, deviants also have many friends (section IV.D). This is contrary to the theory of social control stated deviants are weak in social integration. The reason can be given here is the poor meaning of friendship in SNS (e.g. there is no different between friend and acquaintance) comparing to the real world. In addition, the easiness of creating friendship by merely clicking button makes users can have (so) many friends, while in the real world, friendship is not as simple as a click. Therefore, two attitudes are recommended. First, an SNS is just an extension of phonebook which contains various information about users in the friend list. Hence, a new meaning of friend emerges beside the meaning of friendship in the real world, the ‘friendship’ of SNSs. Second, giving meaning to every tie created in SNSs. The meaning of tie can be clear up by enriching its type (friend, family, colleague) and its quality (friend, close friend) [2][5]. The meaning is expected not merely a variation of label but more to the processes that define the meaning. Technology needs to accommodate the processes and its mechanism still need a further research. The meaning of tie can also be cleared up by giving the reasons behind users’ interaction, e.g. users interact one another because they have the same object of interest. Breslin and Decker propose <em>object-centered social network</em> to give meaning to every ties of social network using semantic. Users are connected by their object of interest [4].</p>
<p>In section IV.E, deviants are found never involve in forum and blog, while in the real world one’s social involvement is the predictor of his misbehavior. Thus, two recommendations are proposed. First, there’s a need to encourage users to involve themselves in SNS and to contribute constructively. It can be done by implementing award and credibility system or using system which can explain the advantages users can get if they participate in SNS. Second, integrate SNS with other SNSs, forums, and blogs. By doing so, a user doesn’t have to construct a new profile again when he register in a new SNS, forum, or blog. Besides, he can easily share his investment in other sites to his networks.</p>
<p>A collection of users banned from an SNS can be used to acquire the aggregation of social judgment of deviance—what is good, bad, proper, or not proper in SNS. By identifying their common characteristics, it’s possible to identify other deviants haven’t been handled. Techniques of identification, clustering, and classification can be used to realize this.</p>
<h3>VI. Conclusion</h3>
<p>In this research, using statistical approach, it’s found that users which are banned from SNSs tend to have the same characteristics as deviants do as stated by social control theory, which indicates misbehaviors are indeed exist in SNSs. SNS is a social software. It’s not merely people-machine interaction. It’s also about people-people interaction which values and norms are central in guiding community’s behaviors. Some people will not let their children join SNSs and see pornographic contents there (or be the contributor of the unwanted contents). Thus, a social control system is needed to control the community of SNS. What can technology contribute? Are they merely about identification, surveillance, manipulation, limitation, and deletion? Or something that is more constructive, like changing users’ attitudes and behaviors, or increase their awareness, motivation, and initiative to contribute constructively to the SNS communities? These questions could be our next research questions.</p>
<h3>Acknowledgement</h3>
<p>We would like to say thank you to Fupei.com, especially for Mr. Sanny Gaddafi, who has provided us adequate data which make this research possible.</p>
<h3>References</h3>
<p><a name="_Ref231106229">[1] Boyd, D. “Friends, Friendsters, and Top 8: Writing Community Into Being on Social Network Sites.” <em>First Monday.</em> December 2006. http://www.firstmonday.org/issues/issue11_12/boyd/index.html (accessed September 20th, 2008).</a></p>
<p><a name="_Ref231106186">[2] Boyd, D M. “Friendster and Publicly Articulated Social Networks.” <em>Proceedings of ACM Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI 2004)</em> (ACM Press), April 2004: p. 1279-1282.</a></p>
<p><a name="_Ref231104970">[3] Boyd, D M, and N B Ellison. “Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship.” <em>Journal of Computer-Mediated Communication.</em> 2007. http://jcmc.indiana.edu/vol13/issues1/boyd.ellison.html (accessed September 20th, 2008).</a></p>
<p><a name="_Ref231106250">[4] Breslin, J, and S Decker. “The Future of Social Networks on the Internet.” <em>IEEE Internet Computing</em>, 2007: 84-88.</a></p>
<p><a name="_Ref231106198">[5] Fono, D, and R G Kate. “Hyperfriends and Beyond: Friendship and Social Norms on LiveJournal.” <em>Internet Research Annual: Selected Papers from the AOIR Conference</em>, 2006: p. 91-103.</a></p>
<p><a name="_Ref231104668">[6] Longshore, D, E Chang, and N Messina. “Self-Control and Social Bonds: A Combined Control Perspective on Juvenile Offending.” <em>Journal of Qualitative Criminology</em>, December 2005.</a></p>
<p><a name="_Ref231104644">[7] Ofcom. <em>Annex 3: Social Networking Qualitative Research Report.</em> Office of Communication, 2008.</a></p>
<p><a name="_Ref231104647">[8] Ofcom. <em>Social Networking: A Quantitative and Qualitative Research Report into Attitudes, Behaviors, and Use.</em> Office of Communication, 2008.</a></p>
<p><a name="_Ref231105242">[9] Redmon, D. “Testing Informal Social Control Theory: Examining Lewd Behavior during Mardi Grass.” <em>An Interdisciplinary</em></a><em> </em><em>Journal: Deviant Behavior</em>, July 4th, 2002: 363-384.</p>
<p><a name="_Ref231105016">[10] Soekanto, Soerjono. <em>Sosiologi Suatu Pengantar.</em> Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1982.</a></p>
<p><a name="_Ref231105071">[11] Stolley, K S. <em>The Basic of Sociology.</em> Greeenwood Press, 2005.</a></p>
<p><a name="_Ref231104680">[12] Storsul, T, H C Arnseth, G Enli, V Kløvstad, and A Maasø. <em>New Web Phenomena.</em> Gover</a>nment administration and culture of sharing, report published by IMK and ITU, University of Oslo, 2008.</p>
<p><a name="_Ref231105244">[13] Welch, M R, C R Tittle, J Yonkovski, N Meidinger, and H G Grasmick. “Social Integration, Self-Control and Conformity.” <em>Journal of Quantitative Criminology</em>, 2008: 73-92.</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=32&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/recognizing-deviants-in-social-networking-sites-case-study-fupei-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb1.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb2.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb3.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb4.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENJEMBATANI TEORI DAN APLIKASI: BELAJAR DARI ISU-ISU SITUS JEJARING SOSIAL</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/menjembatani-teori-dan-aplikasi-belajar-dari-isu-isu-situs-jejaring-sosial/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/menjembatani-teori-dan-aplikasi-belajar-dari-isu-isu-situs-jejaring-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 13:07:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[interaksi]]></category>
		<category><![CDATA[landasan teoritis]]></category>
		<category><![CDATA[nilai]]></category>
		<category><![CDATA[privasi]]></category>
		<category><![CDATA[relasi]]></category>
		<category><![CDATA[situs jejaring sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/menjembatani-teori-dan-aplikasi-belajar-dari-isu-isu-situs-jejaring-sosial/</guid>
		<description><![CDATA[Draft paper untuk Konferensi Nasional Indonesia 2009, 7 januari 2009, Universitas Islam Yogyakarta, Yogyakarta, IndonesiaDraft dapat diunduh  di sini:Draft KNSI 2009 &#8211; Alfa Ryano MENJEMBATANI TEORI DAN APLIKASI: BELAJAR DARI ISU-ISU SITUS JEJARING SOSIAL Alfa Ryano1 1 Jurusan Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung2 1Jl. Rangga Gempol 6 Bandung, 2Jl. Ganesa No. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=23&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Draft paper untuk Konferensi Nasional Indonesia 2009, 7 januari 2009, Universitas Islam Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia</em><em>Draft dapat diunduh  di sini:<a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/draft-knsi-2009-alfa-ryano.pdf">Draft KNSI 2009 &#8211; Alfa Ryano</a></em></p></blockquote>
<p><strong>MENJEMBATANI TEORI DAN APLIKASI: </strong><strong>BELAJAR DARI ISU-ISU SITUS JEJARING SOSIAL </strong></p>
<p><strong>Alfa Ryano<sup>1</sup></strong></p>
<p><sup>1 </sup>Jurusan Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung<sup>2</sup></p>
<p><sup>1</sup>Jl. Rangga Gempol 6 Bandung, <sup>2</sup>Jl. Ganesa No. 10 Bandung</p>
<p><sup>1 </sup><a href="mailto:alfa.ryano@gmail.com">alfa.ryano@gmail.com</a>, <sup>1 </sup><a href="mailto:alfaryano@students.itb.ac.id">alfaryano@students.itb.ac.id</a></p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image0014.gif"><img style="display:inline;border:0;" title="clip_image001[4]" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image0014_thumb.gif?w=240&#038;h=1" border="0" alt="clip_image001[4]" width="240" height="1" /></a></p>
<p><strong>Abstrak</strong></p>
<p>Dalam beberapa tahun terakhir situs jejaring sosial (SJS) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan remaja dan dewasa muda. Penggunaan SJS telah mengubah sikap penggunanya terhadap privasi, cara mereka berinteraksi dan membangun relasi, cara mereka menyatakan diri mereka, pemahaman, kebiasaan, dan nilai yang mereka pegang. Makalah ini mengangkat beberapa isu seputar SJS, seperti privasi, presentasi diri, relasi, nilai, budaya dan perilaku, sebagai masukan isu-isu apa saja yang patut diperhatikan dalam membangun aplikasi yang melibatkan interaksi sosial. Berdasarkan isu-isu pada SJS, penulis menemukan (1) penggunaan teknologi dapat mengubah nilai, perilaku, dan budaya yang dipegang oleh komunitas, tetapi sebaliknya komunitas juga dapat mengarahkan penggunaan teknologi menurut nilai yang mereka miliki; (2) teori-teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku dapat digunakan sebagai landasan teoritis penelitian dan pengembangan aplikasi, dan dasar penjelasan bagi fenomena-fenomena yang terjadi pada domain jejaring sosial.</p>
<p><strong>Kata kunci </strong>: situs jejaring sosial, privasi, nilai, relasi, interaksi, landasan teoritis</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image0026.gif"><img style="display:inline;border:0;" title="clip_image002[6]" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image0026_thumb.gif?w=240&#038;h=1" border="0" alt="clip_image002[6]" width="240" height="1" /></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span id="more-23"></span></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<h3>1. Pendahuluan</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dari tahun 2002 hingga sekarang, anak muda dibanjiri dengan banyaknya situs jejaring sosial (SJS), seperti MySpace, Facebook, Flickr, Friendster, dan sebagainya, walaupun sebenarnya layanan ini telah di mulai pada tahun 1997 oleh SixDegrees.com, kemudian dilanjutkan oleh LiveJournal, AsianAvenue, BlackPlanet (1999), MiGente (2000), dan terus bermunculan SJS baru hingga saat ini [4]. Anak-anak Indonesia pun tidak ketinggalan meluncurkan SJS, sebut saja Fupei, Kombes, KapanLagi, AyoGaul, dan lain-lain. Beberapa SJS nasional terkesan hanya “menjiplak” SJS yang ada di luar negeri, tetapi ada juga yang melakukan diferensiasi dan mendedikasikan diri untuk anak dalam negeri, misal Kombes<a name="_ftnref1_9828" href="#_ftn1_9828">[1]</a> memakai label <em>Indonesian Social Network</em> dan FUPEI<a name="_ftnref2_9828" href="#_ftn2_9828">[2]</a> singkatan dari <em>Friends Uniting Program Especially Indonesia</em>.</p>
<p>Selain keutungan yang diberikan, seperti memperluas, membangun, dan menjaga relasi, untuk kesenangan dan hiburan, dan untuk mendapatkan informasi tertentu [4][17], situs jejaring sosial juga membuka peluang bagi isu-isu privasi, rasisme, pornografi, penculikan, pencurian identitas, pelecehan seksual, perubahan nilai-nilai, penipuan, dan kekerasan seperti yang ditunjukkan oleh beberapa judul berita berikut, “<em>Facebook Picu Kekerasan Berdarah?</em>”<a name="_ftnref3_9828" href="#_ftn3_9828">[3]</a>, “<em>Profil Palsu di Facebook Bikin Hidup Wanita Hancur</em>”<a name="_ftnref4_9828" href="#_ftn4_9828">[4]</a>, “<em>Friendster &#8216;Ancam&#8217; Masa Depan Remaja</em>”<a name="_ftnref5_9828" href="#_ftn5_9828">[5]</a>, “<em>Rasisme merebak di Facebook</em>”<a name="_ftnref6_9828" href="#_ftn6_9828">[6]</a>, dan “<em>Seorang anak hilang gara-gara situs jejaring sosial</em>”<a name="_ftnref7_9828" href="#_ftn7_9828">[7]</a>. Satu hal yang patut diwaspadai adalah sebagian besar pengguna SJS berasal dari kalangan remaja atau dewasa muda—golongan yang sangat rentan terhadap hasutan dan tindak kejahatan. Sepertinya, SJS kini telah menjadi taman bermain yang berbahaya bagi mereka.</p>
<p>Makalah ini mencoba mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan SJS, khususnya yang berkaitan dengan isu privasi nilai-nilai, budaya, perilaku, dan relasi. Dengan begitu kita dapat mengetahui apa yang sebenarnya sedang dihadapi oleh komunitas SJS. Isu-isu ini sebaiknya ditanggapi sebagai isu bersama oleh berbagai disiplin ilmu.</p>
<p>Melalui isu-isu tersebut, makalah ini mencoba mengangkat pelajaran apa saja yang dapat diperoleh dari hasil interaksi antara sistem SJS dengan penggunanya. Penulis menemukan dua hal penting dalam menjebatani teori dan aplikasi pada domain jejaring sosial, yaitu (1) penggunaan teknologi dapat mengubah nilai, perilaku, dan budaya yang dipegang oleh pengguna, tetapi sebaliknya pengguna juga dapat mengarahkan penggunaan teknologi; (2) teori-teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku dapat digunakan sebagai landasan teoritis bagi penelitian dan pengembangan aplikasi, dan dasar penjelasan bagi fenomena-fenomena yang terjadi pada domain jejaring sosial.</p>
<p>Makalah ini diawali dengan pendahuluan yang berisi latar belakang dan tujuan penulisan serta penjelasan singkat sistematika penulisan makalah ini. Selajutnya untuk memberikan pengertian dasar, konsep jejaring sosial dan SJS akan dijelaskan secara singkat pada bagian 2. Pada bagian 3, beberapa isu-isu yang menyangkut privasi, nilai-nilai, budaya, dan relasi dikemukakan secara singkat untuk memberikan wawasan isu-isu apa saja yang dihadapi pada SJS. Bagian 4 berisi pembahasan mengenai apa yang ditemukan. Pada bagian terakhir, bagian 5, makalah ini ditutup dengan kesimpulan dan beberapa motivasi perlunya penelitian pada SJS.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>2. Situs jejaring sosial</h3>
<p>Situs jejaring sosial (SJS) atau <em>social network service</em> (SNS) diartikan oleh Boyd dan Ellison [4] sebagai situs yang memberikan layanan berbasis web yang memungkinkan pengguna untuk (1) membangun suatu profil publik atau semi-publik dalam suatu sistem terbatas, (2) menampilkan daftar teman (pengguna lain) yang melaluinya para pengguna dapat saling berbagi relasi, dan (3) memperlihatkan dan mengubah daftar relasi mereka dalam sistem tersebut. Ofcom [12] mendefinisikan situs jejaring sosial sebagai situs yang menyediakan layanan bagi pengguna untuk membuat profil atau halaman pribadi, dan membangun jejaring sosial <em>online</em>. Halaman profil berisi informasi pribadi (nama, kelamin, agama, hobi, dsb.). Sebagai tambahan, situs jejaring sosial juga menyediakan kostumasi halaman, layanan berbagi foto, video, dan musik. Pengguna dapat menbangun jejaring sosial yang dapat ditampilkan dalam bentuk daftar teman. Teman di sini dapat berarti teman atau kenalan mereka di dunia nyata, atau orang-orang yang hanya mereka kenal secara <em>online</em>, atau bahkan yang tidak mereka kenal sama sekali.</p>
<p>Beberapa fakta yang patut dikemukakan adalah sebagian besar pengguna SJS adalah remaja dan dewasa muda. Sepertinya SJS telah menjadi “tempat bermain” populer dan menyenangkan bagi mereka. Beberapa penelitian seperti [12], mendukung fakta-fakta tersebut. Selain itu, kesadaran pengguna pada masalah privasi tidak menghentikan mereka untuk tetap terlibat dalam SJS dengan beberapa alasan.</p>
<p>Menurut [11], cepatnya pertumbuhan SJS didorong oleh beberapa faktor yaitu: (1) meningkatnya penetrasi internet dan kecepatan koneksinya; (2) meningkatnya melek teknologi informasi dan komunikasi; (3) meningkatnya <em>usability</em>/<em>user-friendly</em> aplikasi; (4) SJS merupakan bagian dari pertumbuhan teknologi Web 2.0; (5) komunikasi di sekitar topik-topik relasi sosial atau pergaulan; dan (6) meningkatnya keanekaragaman aplikasi yang memperkaya SJS, seperti <em>instant messaging</em>, <em>social network display</em>, <em>chatting</em>, dan layanan untuk berbagai foto, video, dan musik.</p>
<p>Dari beberapa literatur [4][12][17], penggunaan SJS dapat memberikan keuntungan dan kerugian. Keuntungan yang dapat diberikan berupa: (1) sebagai tempat mencari kesenangan dan hiburan; (2) salah satu cara merawat relasi yang sudah ada; (3) salah satu jalan untuk mencari teman lama; (4) salah satu cara untuk membangun relasi baru; (5) sebagai alat untuk membangun kepercayaaan diri; (6) sebagai kesempatan untuk menjadi orang lain; dan (7) sebagai sarana untuk mengangkat masalah-masalah sosial. Kerugian yang dapat diberikan oleh SJS adalah sebagai berikut: (1) terlalu banyak menghabiskan waktu pada SJS; (2) menggunakan profil untuk mempromosikan diri berlebihan; (3) menipu melalui SJS; dan (5) disalahgunakan untuk tindakan menyimpang seperti pencurian identitas.</p>
<h3>3. Beberapa Isu pada SJS</h3>
<p>SJS, sebagai aplikasi Web 2.0 yang paling digemari dalam beberapa tahun terakhir ini, mampu mampu menarik perhatian para peniliti. Makalah ini mencoba mengkategorikan hasil penelitian-penelitianSJS ke dalam isu-isu, seperti privasi, presentasi diri, relasi, nilai, dan budaya dan perilaku. Isu-isu ini diangkat karena isu-isu ini cukup sering muncul pada berbagai sumber.</p>
<h3>3.1. Privasi</h3>
<p>Isu pertama yang diangkat pada makalah ini adalah isu privasi dan kesadaran pengguna dalam menjaga informasi dirinya. Privasi adalah tingkat keterbukaan dan penerimaan seseorang terhadap kehadiran orang lain dalam hidupnya. Di dunia, orang cenderung memilih-memilih pihak-pihak mana saja diperbolehkan mengetahui atribut-atribut tertentu kehidupannya, tetapi di dunia maya ini sulit dilakukan karena sekali indentitas pengguna <em>online</em>, identitas akan terbuka kepada banyak orang—kenalan dan bukan kenalan.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh Tufekci [20] pada Facebook dan Acquisti dan Gross [1] pada MySpace menunjukkan bahwa sedikit atau tidak ada relasi antara kesadaran privasi pengguna dengan informasi pribadi yang ditampilkan. Sebagian pengguna sadar bahwa dengan terlibat dalam SJS akan membuat indentitas mereka terbuka, tetapi mereka tetap melakukannya. Alasan mengapa mereka tetap melakukannya dijawab oleh Ofcom [12] dan hasilnya berupa 8 alasan, yaitu: (1) kurangnya kewaspadaan terhadap masalah privasi; (2) bagi sebagian besar pengguna, inti dari mereka terlibat dalam SJS adalah untuk memperluas jejaring sosial mereka di luar kehidupan nyata; (3) adanya asumsi bahwa SJS secara otomatis mengatur privasi mereka; (4) tingkat literasi internet yang rendah; (5) Informasi dan fasilitas privasi dan keamanan sulit ditemukan dan digunakan; (6) mereka beranggapan bahwa situs lain seperti <em>online dating</em> yang mendorong penggunanya untuk bertemu langsung, dan <em>e-banking</em> yang melibatkan transfer uang, jauh lebih berbahaya daripada SJS; (7) pengguna baru merasa bahwa profil mereka masih belum terlihat oleh penguna lain; (8) kebutuhan untuk menjadi fokus perhatian mengalahkan kesadaran privasi.</p>
<p>Masalah privasi pun tidak lepas dari alasan yang ada di balik presentasi profil pengguna. Beberapa alasan psikologis dan sosial berupa kebutuhan manusia untuk memperluas dan membangun relasi, serta kebutuhan untuk diperhatikan mempengaruhi presentasi profil mereka. Ini akan dibahas pada bagian selanjutnya. Dari sisi perancangan, para perancang perlu memperhatikan hal ini dengan memberikan keleluasaan bagi pengguna untuk mengatur akses terhadap informasi pribadinya dan secara berkelanjutan mengedukasi pengguna mengenai masalah privasi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3>3.2. Presentasi Diri</h3>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pada SJS, pengguna mempresentasikan dirinya dalam bentuk profil yang berisi data pribadi, pesan singkat, foto, daftar teman, dan sekumpulan testimonial dari teman-temannya. Beberapa SJS juga menyediakan fasilitas blog, video, dan rekaman suara. Bagaimana mereka mempresentasikan dirinya telah menjadi tema beberapa penelitian. Untuk menjelaskannya para peneliti telah menggunakan teori-teori ilmu sosial, perilaku, dan psikologi sebagai landasan teoritis penelitian dan dasar penjelasan bagi fenomena yang terjadi. Beberapa konsep yang digunakan, yaitu <em>impression management</em>, <em>signaling theory</em>, <em>common ground theory</em>, dan <em>transaction</em> <em>cost theory</em> [5][7][9].</p>
<p><em>Impression management</em> yang dikemukakan oleh Goffman (1950), dalam [5], menjelaskan bahwa seseorang dapat mengubah penampilan dirinya disesuaikan dengan orang-orang yang berada dalam lingkungan interaksinya. Perubahan presentasi diri dimaksudkan untuk menarik perhatian dari lawan bicara atau orang-orang sekitar dan untuk menunjukkan identitas dirinya. Pada SJS, pengguna akan berusaha membuat profilnya sebaik mungkin dan terkadang berlebih-lebihan <em>(narcism</em>) untuk menarik perhatian pengguna lain</p>
<p><em>Signaling theory</em>, pada [7] dan [9], menjelaskan bahwa kita, sebagai manusia, menampilkan atribut-atribut diri sebagai sinyal untuk menyatakan sesuatu dari identitas dirinya. Sinyal-sinyal yang dikirim dapat dimanipulasi oleh pengirim untuk mengkomunikasikan kualitas personal, dan diintepretasikan oleh penerima untuk menilai karakteristik pengirim. Misalnya seorang mahasiswa, sadar atau tidak sadar, berperilaku layaknya mahasiswa dan menujukkan atribut-atribut mahasiswanya ketika berada di lingkungan kampus. Pada SJS, jika pengguna seorang penggila sepakbola maka ia akan menampilkan atribut-atribut yang berbau sepakbola. Penerima akan menangkap sinyal tersebut dan mengartikan pengguna tersebut penggemar sepakbola.</p>
<p><em>Common ground theory</em>, melalui [9], adalah teori yang menyatakan bahwa seseorang cenderung membina relasi dengan orang yang memiliki latar belakang sama. Teori ini menjelaskan pada kita bahwa dengan memasukkan berbagai informasi pribadi ke dalam profil akan membuat pengguna SJS memiliki teman yang lebih banyak karena pengguna akan lebih banyak mendapati pengguna lain yang memiliki latar belakang sama.</p>
<p><em>Cost theory</em>, dalam [9], menjelaskan bahwa sinyal, tampilan atau informasi, yang ada pada profil dapat mengurangi biaya dalam menemukan persamaan antara pengguna sehingga membawa kepada kesepahaman. Pengurangan biaya ini dapat diwujudkan melalui penggunaan <em>friends finder</em>, semacam <em>search engine</em>, untuk menemukan pengguna lain berdasarkan kriteria profil yang diberikan. Kehadiran internet juga mengurangi biaya yang disebabkan oleh jarak dan waktu. Sebagai kontradiksi, di dunia nyata seseorang membutuhkan biaya yang lebih besar untuk mempresentasikan dirinya, memulai pembicaraan, hingga menemukan persamaan, dalam membangun suatu relasi baru.</p>
<p>Teori-teori tersebut menjelaskan bagaimana pengguna SJS mempresentasikan dirinya. Keinginan pengguna untuk membangun relasi baru, keinginan mereka untuk diperhatikan, dan keterlibatan mereka dalam SJS, sadar atau tidak sadar, membuat mereka memberikan identitas diri sehingga rawan terhadap isu-isu privasi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.3. </strong><strong>Relasi</strong></p>
<p>Isu menarik lainnya adalah isu mengenai relasi. Sebagaimana yang telah disebutkan pada bagian 2, dua alasan mengapa orang-orang menggunakan SJS adalah untuk menbangun relasi baru dan menjaga relasi yang sudah ada, tetapi pada kenyataannya sebagian penggunaan SJS telah menyimpang dari maksud semula.</p>
<p>Beberapa penelitian mengangkat topik pertemanan. Boyd [4] menyatakan bahwa istilah ‘<em>friend</em>’ sebagai indikator pertemanan pada Friendster merupakan relasi yang biner: teman atau bukan teman. Boyd [3] lebih detil mengkontraskan arti pertemanan yang dipegang di dunia nyata dengan pertemanan yang diterapkan di SJS. Ia menunjukkan bahwa ‘teman’ pada SJS telah mengaburkan arti pertemanan itu sendiri. Dia menununjukkan beberapa fakta yang mengejutkan yaitu: (1) Bahwa ada profil pengguna yang memiliki 127.572.764 teman. Ini menghasilkan pertanyaan apakah pertemanan adalah membangun relasi ataukah mengumpulkan atau mengoleksi teman? (2) Di kehidupan sehari-hari, seberapa besar usaha yang Anda keluarkan untuk membuat seseorang yang Anda tidak kenal menjadi teman Anda? Dalam SJS ini semudah menekan tombol ‘approve’. (3) Di dunia kita mengenal istilah kenalan, kolega, rekan, teman, teman baik, teman dekat, dan sahabat, tetapi di SJS hanya ada 2, yaitu teman atau bukan teman. Fono dkk. [6], yang meneliti SJS LiveJournal, mendukung peryataan tersebut, kemudian mengagas bahwa perancang harus memperhitungkan keanekaragaman yang ada pada relasi antara pengguna—tidak hanya biner.</p>
<p>Apa yang dapat dipelajari di sini adalah bahwa teknologi yang tidak didesain dengan baik dan tidak memperhatikan pemahaman yang dipegang oleh masyarakat dapat mengaburkan bahkan mengubah pemahaman masyarakat itu sendiri, pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku mereka. Para perancang perlu memperhatikan hal ini dalam mendesain teknologi, khususnya teknologi yang akan digunakan oleh masyarakat luas.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.4. </strong><strong>Nilai</strong></p>
<p>Nilai adalah pegangan masyarakat atau komunitas mengenai apa yang penting, berharga untuk diperjuangkan. Nilai merupakan panduan perilaku masyarakat yang diwujudkan dalam adat-istidat, norma, dan kebiasaan [18]. Adalah sangat menarik bahwa di komunitas jejaring sosial pun terdapat nilai-nilai sebagaimana di dunia nyata. Nilai-nilai ini memandu para pengguna SJS dalam membangun jejaring sosial mereka menggunakan teknologi informasi. Larsen [10], melalui penelitiannya pada SJS www.arto.dk di Denmark, menemukan bahwa komunitas memiliki nilai “<em>keeping out fakers and being real</em>”, yaitu para pengguna akan memberikan teguran untuk setiap anggota yang tidak menunjukkan identitas diri sebenarnya.</p>
<p>Di SJS lainnya, BodySpace [13]—SJS bagi binaragawan—memiliki nilai-nilai yang jelas yang mendasari interaksinya. Nilai “Dedikasi, Determiniasi, dan Disiplin” yang mencakup latihan, nutrisi, dan instirahat, dipegang erat oleh komunitasnya. Ini tercermin pada profil dan komentar yang terdapat pada BodySpace. Slogan-slogan seperti “<em>Train Harder, Faster. Eat Better and Feel Leaner!</em>”, “<em>Nothing is impossible!</em>”, dan “<em>If it was easy, everyone would do it.</em>” Mengambarkan nilai yang mereka miliki. Sebagaimana komunitas lainnya mereka juga tabu membicarakan topik-topik tertentu, seperti penggunaan <em>steroid</em> untuk memacu perkembangan otot.</p>
<p>Kontradiksi dengan dua contoh di atas, beberapa penelitian mendapati bahwa beberapa SJS tidak memiliki nilai-nilai yang jelas. Fono dkk. [6] meneliti LiveJournal, menemukan bahwa kurangnya konsistensi interpretasi dan norma sosial menjadi penyebab konflik sosial dalam mengartikulasikan relasi, khususnya pada mengartikan pertemanan yang menyebabkan kesalahpahaman antarpengguna. Kurangnya regulasi norma membuat konflik ini dibiarkan terjadi.</p>
<p>Tidak semua SJS memiliki nilai-nilai yang sama. Sebagian SJS terlihat memiliki nilai yang jelas dan tegas dan sebagian lagi samar-samar. LinkedLn sebagai SJS yang dikhususkan bagi para profesional memiliki norma yang menghendaki agar setiap penggunanya memberikan identitas yang asli, karena kredibilitas dan kebenaran identitas penting dalam karir dan pekerjaan. Ini tidak sama dengan Friendster di mana profil palsu, <em>fakester</em>, dianggap sebagai seni, hiburan, dan buah kreativitas.</p>
<p>Sebagaimana nilai menjadi panduan bagi suatu komunitas, demikian pula nilai berperan dalam SJS. Nilai yang ada pada SJS mencerminkan maksud dari SJS tersebut dibuat (misalnya LinkedLn dan BodySpace di atas). Ketidakjelasan dari nilai dapat membawa kepada konflik, seperti pada kasus <em>fakester</em>. Oleh karena itu, para pengembang SJS perlu memperhatikan regulasi dan sosialisasi nilai dan norma untuk mengarahkan para pengguna SJS kepada status yang dikehendaki oleh SJS.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>3.5. </strong><strong>Budaya dan Perilaku</strong></p>
<p>Teknologi dapat mengubah perilaku dan budaya manusia. Hal yang sama juga berlaku pada SJS. Sveningsson [19] meneliti SJS LunarStorm.se, Swedia. Dia menemukan adanya pergeseran budaya pada wanita pengguna SJS. Kebiasaan konvensional komunitas perempuan seperti membicarakan hal-hal pribadi di dalam kamar mereka kini telah bergeser ke SJS—ekstensi dari kamar pribadi. Di SJS, mereka menampilkan foto-foto pribadi dan juga memceritakan pengalaman-pengalaman pribadi mereka. Privasi kini telah mengambil tempat di publik.</p>
<p>Jadi, apa yang dapat dipelajari dari isu-isu SJS, khusunya dalam menjebatani antara teori dan aplikasi? Ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>4. </strong><strong>Apa yang Dapat Dipelajari?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebagaimana yang diketahui bahwa pengguna teknologi adalah manusia, dan penggunaannya tidak hanya dilakukan melalui interaksi manusia-teknologi saja, tetapi juga interaksi antara manusia-manusia yang dimediasi teknologi tersebut. Itulah sebabnya dalam [17] terdapat kutipan Boyd yang berjudul <em>Technology-centric Projects Bound To Fail</em>, yang menyatakan:</p>
<p>“Teknologi bukanlah menciptakan alam semesta yang terpisah, walaupun orang-orang <em>science</em> <em>fiction</em> memimpikan hal tersebut. Teknologi membantu dan menyatu dengan keinginan dan kebutuhan manusia yang sudah ada—komunitas, perhatian, kekuasaan, uang, dll. Memahami perilaku manusia merupakan kunci memahami teknologi dan perilaku manusia …. Kita tidak mengerti bagaimana teknologi berpotongan dengan masyarakat; kita tidak sedang mencoba menempatkan teknologi sosial ke dalam praktik-praktik sosial …. Tidak ada pengguna internet. Yang ada adalah orang-orang dan mereka menggunakan teknologi dan internet sebagai alat dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka tidak menghubungkan diri mereka dengan internet, tetapi kepada orang-orang yang mereka cintai dan kepada kumpulan pengetahuan. Informasi, pengetahuan, dan media menyebar melalui moda <em>peer-to-peer</em>. Moda tersebut dapat diukur dengan mengamati jejaring tersebut. Teknologi yang dapat digunakan untuk maksud sosial bukanlah tentang individu, buka juga tentang <em>usability</em> … tetapi tentang komunitas dan praktik-praktik sosial. Anda tidak dapat terlibat dalam teknologi sosial seorang diri, Anda harus menjadi bagian dari komunitas.” (terjemahan bebas).</p>
<p>Dari isu-isu yang dinyatakan pada bagian 3 dan melalui studi literatur, makalah ini mengangkat 2 hal penting yang patut diperhatikan dalam menjebatani antara teori dan aplikasi, khususnya pada aplikasi sosial. Hal pertama yang patut diperhatikan, yaitu penggunaan teknologi dapat mengubah nilai, perilaku, dan budaya yang dipegang oleh komunitas, tetapi sebaliknya komunitas juga dapat mengarahkan penggunaan teknologi menurut nilai yang mereka miliki. Kedua, teori-teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku dapat digunakan sebagai landasan teoritis penelitian dan pengembangan aplikasi, dan dasar penjelasan bagi fenomena-fenomena yang terjadi pada domain jejaring sosial.</p>
<p><strong>4.1. </strong><strong>Komunitas vs Teknologi</strong></p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/peopleanduseoftechnology.jpg"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="people and use of technology" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/peopleanduseoftechnology_thumb.jpg?w=425&#038;h=170" border="0" alt="people and use of technology" width="425" height="170" /></a></p>
<p>Gambar 1 Penggunaan teknologi dapat mengubah komunitas, tetapi sebaliknya komunitas juga dapat mengarahkan penggunaan teknologi.</p>
<p>Interaksi antara komunitas—kumpulan orang dengan segala nilai, budaya, dan perilakunya—dengan penggunaan teknologi dimodelkan pada Gambar 1. Pada model tersebut, teknologi dapat mengubah nilai, pemahaman, budaya, dan perilaku komunitas. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian 3.3, desain SJS yang tidak memperhatikan keanekaragaman makna kata ‘<em>friend</em>’ mempersempit arti makna pertemanan itu sendiri. Ini mengubah pemahaman pengguna terhadap pertemanan seakan-sekan pertemanan hanyalah sekumpulan daftar teman. SJS juga mengubah budaya masyarakat konvensional. Apa yang seharusnya berada pada ruang pribadi kini dengan mudahnya diekspos ke ruang publik, sebagaimana yang ditunjukkan pada studi kasus budaya <em>girls room</em> pada LunarStorm.se di Swedia (bagian 3.5).</p>
<p>Walaupun begitu, tidak berarti komunitas dikendalikan sepenuhnya oleh teknologi. Sebaliknya, komunitas secara bersama-sama memiliki kemampuan untuk mengendalikan penggunaan teknologi. Sebagai individu maupun sosial, pengguna memiliki nilai yang memandu mereka dalam menggunakan teknologi. Misalnya pada studi kasus Arto.dk di mana mereka menghendaki agar setiap anggota SJS menggunakan identitas asli pada profilnya, atau pada SJS binaragawan, BodySpace, di mana sportivitas, kerja keras, dan disiplin menjadi panduan bagi para anggotanya berperilaku. Tiap-tiap anggota dapat berperan mengawasi dan mengarahkan anggota lainnya menuju kepada nilai bersama, sehingga terjadi <em>co-construction</em>, yaitu anggota komunitas saling membangun satu sama lain.</p>
<p>Tetapi patut diperhatikan bahwa penggunaan teknologi oleh komunitas tidak selalu mengarah kepada nilai bersama. Terkadang terjadi penyimpangan terhadap maksud utama dari SJS dibuat. Sebagai contoh, munculnya para <em>fakester </em>pada SJS yang menganggap bahwa profil palsu merupakan suatu karya kreativitas, seni, dan hiburan. Ini dapat terjadi karena ketidakjelasan nilai bersama akibat kurangnya regulasi dan sosialisasi nilai. Jika komunitas memiliki nilai bersama dan nilai tersebut secara berkelanjutan ditekankan, serta nilai tersebut menjadi tujuan dari SJS dibuat, maka komunitas dapat diarahkan kepada komformitas dan kepatuhan tehadap nilai dan norma besama. Untuk menjawab mengapa fenomena-fenomena ini terjadi akan dibahas pada bagian selanjutnya.</p>
<p><strong>4.2. </strong><strong>Teori Ilmu Sosial, Psikologi, dan Perilaku sebagai Dasar Teoritis dan Penjelasan</strong><strong> </strong></p>
<p>Teori-teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku dijadikan sebagai landasan teori yang menjembatani antara fakta perilaku komunitas dengan penelitian dan pengembangan aplikasi yang menyentuh domain sosial. Modelnya dapat dilihat pada Gambar 2. Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian 3.2, beberapa teori seperti <em>impression management</em>, <em>signaling theory</em>, <em>common ground theory</em>, dan <em>transaction cost theory</em> digunakan sebagai landasan teoritis bagaimana pengguna SJS mempresentasikan diri dalam membangun relasi baru sehingga memperluas jejaring sosial mereka. Teori-teori tersebut menjadi dasar teoritis penelitian dan pengembangan aplikasi pada domain sosial. Penelitian yang berlandaskan teori-teori tsb. kemudian menghasilkan penemuan-penemuan riset yang juga dapat dijadikan sebagai landasan bagi pengembangan dan implementasi sistem atau aplikasi sosial. Pengembangan yang dilandasi oleh teori-teori tersebut diharapkan dapat menghasilkan aplikasi sosial yang layak diterapkan pada komunitas. Terkandang, penerapan aplikasi sosial ini menghasilkan fenomena-fenomena di luar harapan semula. Teknologi mengubah perilaku komunitas aplikasi sosial atau komunitas menggunakan aplikasi tersebut dengan cara mereka sendiri—ini tidak diprediksikan sebelumnya.</p>
<p><a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image.png"><img style="display:block;float:none;margin-left:auto;margin-right:auto;border:0;" title="image" src="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb.png?w=393&#038;h=360" border="0" alt="image" width="393" height="360" /></a></p>
<p>Gambar 2 Teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku sebagai landasan teoritis penelitian dan pengembangan aplikasi, dan dasar penjelasan dari fenomena-fenomena jejaring sosial.</p>
<p>Selain sebagai landasan teoritis, teori-teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku juga dapat dijadikan sebagai pejelasan mengapa fenomena-fenomena itu terjadi. Misalnya teori-teori yang disebutkan pada bagian 3.2 dijadikan sebagai dasar penjelasan mengapa fenomena seperti adanya pengguna yang mengerti masalah privasi tetapi tetap membuka indentitas pribadinya pada publik. Mereka, sadar atau tidak sadar, melakukan tindakan tersebut demi mendapat perhatian dan mengurangi biaya memperluas jejaring sosial mereka. Walaupun teori-teori sosial, perilaku, dan psikologi dapat memberikan dasar penjelasan dari fenomena, penelitian yang akurat, mendalam, dan iteratif masih diperlukan untuk menemukan fakta-fakta, bahkan sampai kepada akar permasalahan fenomena. Secara menyeluruh, Pemahaman ini dapat dilihat pada Gambar 2.</p>
<p>Kendala yang dihadapi adalah isu-isu sosial merupakan isu-isu yang kompleks yang jika dilihat secara utuh terdapat banyak variabel yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga jika hanya menggunakan satu teori saja tidaklah cukup untuk mejelaskan suatu permasalahan. Belum lagi jika isu-isu sosial dibangun di atas teknologi yang terkadang menghasilkan keluaran diluar ekspektasi. Oleh karena itu, kontribusi dan kerjasama dari berbagai disiplin ilmu, termasuk pengembang atau perancang, sangat diperlukan.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>5. </strong><strong>Kesimpulan dan Pekerjaan Selanjutnya</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sebagaimana telah dipaparkan dalam makalah ini, ketika manusia, sebagai makhluk sosial, dipertemukan dengan teknologi maka akan menghasilkan perubahan—dalam makalah ini disebut sebagai isu. Perubahan tersebut dapat baik dan juga buruk bergantung pada dampak dari perubahan itu sendiri. Makalah ini telah mengangkat isu-isu akibat dari interaksi masyarakat dengan teknologi SJS. Dari isu-isu tersebut, kita dapat belajar menyikapi interaksi kumpulan manusia dengan teknologi. Makalah ini mengangkat dua kesimpulan penting, yaitu (1) penggunaan teknologi dapat mengubah nilai, perilaku, dan budaya yang dipegang oleh komunitas, tetapi sebaliknya komunitas juga dapat mengarahkan penggunaan teknologi menurut nilai yang mereka miliki; (2) teori-teori ilmu sosial, psikologi, dan perilaku dapat digunakan sebagai landasan teoritis penelitian dan pengembangan aplikasi, dan dasar penjelasan bagi fenomena-fenomena yang terjadi pada domain jejaring sosial. Dua kesimpulan ini kiranya dapat menambah pemahaman bagaimana sebaiknya merancang sistem yang mempertemukan interaksi sosial dengan teknologi.</p>
<p>Semua penelitian yang diangkat pada makalah ini merupakan penelitian yang dilaksanakan di luar negeri. Tentunya fenomena yang terjadi di luar negeri tidak harus sama dengan apa yang ada di Indonesia. Bangsa kita memiliki nilai, budaya, dan perilaku sendiri yang membedakannya dari bangsa-bangsa lain. Seharusnya nilai dan budaya Indonesia mendasari apa dan bagaimana teknologi diterapkan dan dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, penelitian seperti apa dan bagaimana SJS di Indonesia masih perlu dikerjakan. Walaupun dengan usia SJS dalam negeri yang masih sangat muda dan jumlah anggota yang masih berkisar ratusan ribu, SJS tetap merupakan wilayah yang menarik untuk diteliti melalui berbagai disiplin ilmu.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<p>[1] Acquisti, A., dan Gross, R., 2006, <em>Imagined Communities: Awareness, Information Sharing, and Privacy on the Facebook</em>, In P. Golle &amp; G. Danezis (Eds.), <em>Proceedings of 6th Workshop on Privacy Enhancing Technologies </em>(pp. 36-58), Cambridge, U.K: Robinson College, June 28-30.</p>
<p>[2] Boyd, D.M, 2004, <em>Friendster and Publicly Articulated Social Networks</em>, <em>Proceedings of ACM Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI 2004) (pp. 1279-1282), New York: ACM Press,<strong> </strong></em>Vienna, April 24-29.</p>
<p>[3] Boyd, D., 2006, <em>Friends, Friendsters, and MySpace Top 8: Writing Community Into Being on Social Network Sites</em>, First Monday, 11 (12), December, http://www.firstmonday.org/issues/issue11_12/boyd/index.html.</p>
<p>[4] Boyd, D.M., &amp; Ellison, N. B., 2007, <em>Social network sites: Definition, history, and scholarship</em>,<em> </em>Journal of Computer-Mediated Communication<strong>,<em> </em></strong><em>13 </em>(1), article 11, http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/boyd.ellison.html.</p>
<p>[5] Dwyer, C., 2007, <em>Digital Relationships in the &#8216;MySpace&#8217; Generation: Results From a Qualitative Study</em>, 40th Hawaii International Conference on System Sciences (HICSS), Waikoloa, HI.</p>
<p>[6] Fono, D., dan Kate, R.G., 2006, <em>Hyperfriends and Beyond: Friendship and Social Norms on LiveJournal</em>, In M. Consalvo &amp; C. Haythornthwaite (Eds.), <em>Internet Research Annual Volume 4: Selected Papers from the AOIR Conference </em>(pp. 91-103), New York: Peter Lang.</p>
<p>[7] Judith, D., dan Boyd, D., 2004, <em>Public Displays of Connection</em>, <em>BT Technology Journal, 22 </em>(4), 71-82.</p>
<p>[8] Kavanaugh, A., Carroll, J.M., Rosson, M.B., Zin, T.T., and Reese, D.D., 2005, <em>Community networks: Where offline communities meet online</em>, <em>Journal of Computer-Mediated Communication<strong>,</strong><strong> </strong></em><em>10</em>(4), article 3, http://jcmc.indiana.edu/vol10/issue4/kavanaugh.html.</p>
<p>[9] Lampe, C., Ellison, N., dan Steinfeld, C., 2007,  <em>A Familiar Face(book): Profile Elements as Signals in an Online Social Network</em>, <em>Proceedings of Conference on Human Factors in Computing Systems (CHI 2007) (pp. 435-444), </em>New York: ACM Press. San Jose, CA.</p>
<p>[10] Larsen, M.C., 2007, <em>Understanding Social Networking: On Young People’s Construction and Co-construction of Identity Online</em>, Paper for the conference Internet Research 8.0: Let’s Play, Association of Internet Researchers, Vancouver.</p>
<p>[11] Ofcom (Office of Communications), 2008, <em>Annex3: Social Networking Qualitative Research Report</em>, Research Document, England, 2 April.</p>
<p>[12] Ofcom (Office of Communications), 2008, <em>Social Networking: A Qauntitative and Qualitative Research Report into Attidues, Behaviours, and Use</em>, Research Document, England, 2 April.</p>
<p>[13] Ploderer, B., Howard, S., &amp; Thomas, P., 2008, <em>Being online, living offline: The influence of social ties over the appropriation of social network sites</em>, Proceedings of <em>CSCW 2008.</em></p>
<p>[14] Redmon, D. , 2002, <em>Testing Informal Social Control Theory: Examining Lewd Behavior During Mardi Grass</em>, in An Interdiciplinary Journal: Deviant Behavior, Volume 23, Issue 4 July 2002 , pages 363 – 384, Routledge Taylor and Francis Group.</p>
<p>[15] Sharp, D., 2005, <em>Social Networks</em>, In Barr, Burns and Sharp (2005), Smart Internet 2010. Smart Internet Cooperative Research Centre: Eveleigh, NSW.</p>
<p>[16] Soerjono Soekanto, 2008, <em>Sosiologi Suatu Pengatar</em>, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.</p>
<p>[17] Storsul, T., Arnseth, h.C., Bucher, T., Enli, G., Hontvedt, M., Kløvstad, V., dan Maasø, A., 2008, <em>New web phenomena. Government administration and the culture of sharing</em>, report published by IMK and ITU, University of Oslo.</p>
<p>[18] Stolley, K.S., 2005, <em>The Basic of Sociology</em>, Greenwood Press, U.S.A, 109-125.</p>
<p>[19] Sveningsson Elm, M., 2007, <em>Taking the Girls’ Room Online: Similarities and Differences between Traditional Girls Room and Computer-Mediated Ones</em>, Paper presented at INTER: A European Cultural Studies Conference in Sweden, ACSIS, Norrköping, June 11-13, 2007,<em> </em><em>Linköping Electronic Conference Proceedings.</em></p>
<p>[20] Tufekci, Z., 2008, <em>Can You See Me Now? Audience and Disclosure Management in Online Social Network Site</em>, Bulletin of Science and Technology Studies, SAGE Publications.</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1_9828" href="#_ftnref1_9828">[1]</a> http://www.kombes.com</p>
<p><a name="_ftn2_9828" href="#_ftnref2_9828">[2]</a> http:///www.fupei.com</p>
<p><a name="_ftn3_9828" href="#_ftnref3_9828">[3]</a><a href="http://www.detikinet.com/read/2008/07/29/081328/979458/398/facebook-picu-kekerasan-berdarah">http://www.detikinet.com/read/2008/07/29/081328/979458/398/facebook-picu-kekerasan-berdarah</a>, 01 September 2008 14:08:06</p>
<p><a name="_ftn4_9828" href="#_ftnref4_9828">[4]</a><a href="http://www.detikinet.com/read/2008/07/04/130148/966963/398/profil-palsu-di-facebook-bikin-hidup-wanita-hancur">http://www.detikinet.com/read/2008/07/04/130148/966963/398/profil-palsu-di-facebook-bikin-hidup-wanita-hancur</a>, 01 September 2008 14:09:24</p>
<p><a name="_ftn5_9828" href="#_ftnref5_9828">[5]</a><a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/24/time/094942/idnews/856958/idkanal/398">http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/11/tgl/24/time/094942/idnews/856958/idkanal/398</a>, 01 September 2008 14:13:10</p>
<p><a name="_ftn6_9828" href="#_ftnref6_9828">[6]</a><a href="http://www.detikinet.com/read/2008/10/11/131505/1018540/398/rasisme-merebak-di-facebook">http://www.detikinet.com/read/2008/10/11/131505/1018540/398/rasisme-merebak-di-facebook</a>, 11 Oktober 2008 18:15:47</p>
<p><a name="_ftn7_9828" href="#_ftnref7_9828">[7]</a><a href="http://international.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/14/18/153955/seorang-anak-hilang-gara-gara-situs-jejaring-sosial">http://international.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/14/18/153955/seorang-anak-hilang-gara-gara-situs-jejaring-sosial</a>, 14 Oktober 2008 20:18:48</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=23&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2010/01/27/menjembatani-teori-dan-aplikasi-belajar-dari-isu-isu-situs-jejaring-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image0014_thumb.gif" medium="image">
			<media:title type="html">clip_image001[4]</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/clip_image0026_thumb.gif" medium="image">
			<media:title type="html">clip_image002[6]</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/peopleanduseoftechnology_thumb.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">people and use of technology</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/image_thumb.png" medium="image">
			<media:title type="html">image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CURICULLUM VITAE</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2009/12/31/curicullum-vitae/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2009/12/31/curicullum-vitae/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 01:28:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curicullum Vitae]]></category>
		<category><![CDATA[CV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2009/12/31/curicullum-vitae/</guid>
		<description><![CDATA[Alfa Ryano Yohannis, S.T., M.T. alfa_ryano@yahoo.co.uk Interest Social Networking, Collaborative Systems, Interaction Systems, Social Informatics, Community/Social Engineering Academic Master of Engineering: (GPA 3.62) Institute Technology of Bandung, Electrical Engineering and Informatics School, majoring Information Systems, Bandung, West Java, Indonesia (2007-2009) Bachelor of Engineering: (GPA 3.18) Diponegoro University, Faculty of Engineering, Electrical Engineering Study Program, majoring [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=55&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Alfa Ryano Yohannis, S.T., M.T.</strong></p>
<p><a href="mailto:alfa_ryano@yahoo.co.uk">alfa_ryano@yahoo.co.uk</a></p>
<h3>Interest</h3>
<p>Social Networking, Collaborative Systems, Interaction Systems, Social Informatics, Community/Social Engineering</p>
<h3>Academic</h3>
<ul>
<li>Master of Engineering: (GPA 3.62) Institute Technology of Bandung, Electrical Engineering and Informatics School, majoring Information Systems, Bandung, West Java, Indonesia (2007-2009)</li>
<li>Bachelor of Engineering: (GPA 3.18) Diponegoro University, Faculty of Engineering, Electrical Engineering Study Program, majoring Computer Engineering and Informatics, Semarang, Central Java, Indonesia (2002-2006)<span id="more-55"></span></li>
<li>Senior High School: SMA Negeri 1 Makassar, Makassar, South Sulawesi, Indonesia (1999-2002)</li>
<li>Junior High School: SMP Negeri 1 Kendari, Kendari, South East Sulawesi, Indonesia (1996-1999)</li>
<li>Primary School: SD Kristen Kendari, Kendari, South East Sulawesi, Indonesia (1996-1999)</li>
</ul>
<h3>Work Experience</h3>
<ul>
<li>Programmer at PT. Sterling Tulus Cemerlang (ERP-SAP Consultant), Jakarta, Indonesia (2009-now)</li>
</ul>
<h3>Project Involvement</h3>
<ul>
<li>Programmer of Inter-Branch Sales System at Borma Supermarket, Bandung (2008).</li>
<li>Programmer of SMS Gateway/Server of Electricity Failure Report at PLN Tegal (2007)</li>
<li>Programmer of Health Laboratory Information System at Health Laboratory Department of South East Sulawesi Province, Indonesia (2006)</li>
<li>Programmer of Motorcycle Credit Information System at CV. SUKMA (motorcycle leasing company), Semarang, Indonesia (2006)</li>
<li>Assistant of Computer and Informatics Laboratory, Electrical Engineering, Diponegoro University (2003-2006)</li>
</ul>
<h3>Teaching Experience</h3>
<ul>
<li>Linux Learning Centre Semarang, Teaching Basic Linux (2005)</li>
<li>Assistant of Computer and Informatics Laboratory, Electrical Engineering, Diponegoro University (2003-2006)</li>
</ul>
<h3>Publication</h3>
<ul>
<li>Yohannis, A.R. and Sastramihardja, H. (2009): “Designing Conceptual Model of Social Control on Social Networking Site Communities”, National Conference of Information System 2010, STMIK MDP, Palembang, Indonesia, January 22-23, 2010.</li>
<li>Yohannis, A.R. and Sastramihardja, H. (2009): “Recognizing Deviants in Social Networking Sites: Study Case Fupei.com”, International Conference of Electrical Engineering and Informatics 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, August 5-7 2009.</li>
<li>Yohannis, A.R. (2009): “Designing Conceptual Model of Social Control on Social Networking Site Communities” (Case Study Fupei.com and Kombes.com)”, Master Thesis, Master of Informatics, School of Electrical Engineering and Informatics, Institut Teknologi Bandung, Bandung, West Java, Indonesia.</li>
<li>Ryano, A. (2009): “Bridging Theories and Applications: Learn from Social Networking Sites Issues”, National Conference of Information System 2009, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia, January 17, 2009.</li>
<li>Yohannis, A.R. (2006): “Computer Graphics Application for 3 Dimensional Geometric Transformation”, Final Project Report, Electrical Engineering, Diponegoro University, Semarang, Central Java, Indonesia.</li>
<li>Yohannis, A.R. (2005): “Billing Administration Application in CV. Atlantis Indonesia”, Field Work Study Report, Electrical Engineering, Diponegoro University, Semarang, Central Java, Indonesia.</li>
</ul>
<h3>Courses</h3>
<ul>
<li>Basic Linux and Linux Networking, Linux Learning Centre, Semarang, Central Java, Indonesia (2005)</li>
<li>Profesional Web Developer, Wahana Komputer, Semarang, Central Java, Indonesia (2003)</li>
<li>Programming Visual Basic, Wahana Komputer, Semarang, Central Java, Indonesia (2002)</li>
<li>Microsoft Office 2000, LPK IKIN, Semarang, Central Java, Indonesia (2002)</li>
</ul>
<h3>Rewards</h3>
<ul>
<li><strong>Best Paper</strong>, National Conference of Information System 2009, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia, January 17, 2009</li>
</ul>
<h3>Software/Computer Skills</h3>
<ul>
<li>Programming Language: Pascal/Delphi, C#, VB.NET, PHP</li>
<li>Database: MySQL, MS SQL Server</li>
<li>ERP: SAP Business One 2007 A</li>
<li>Operating Systems: Windows (XP, Vista, Server 2008), Linux</li>
<li>Social Network: Pajek</li>
<li>Statistics: SPSS</li>
<li>Digital Art: Corel Draw, Photoshop, GIMP, InkScape</li>
<li>Office: Microsoft Office, Open Office</li>
</ul>
<h3>Language Skills</h3>
<ul>
<li>Bahasa Indonesia (native)</li>
<li>English
<ul>
<li>TOEFL = 567 certified by Service English Unit, Diponegoro University (2007)</li>
<li>IELTS = 6.5 [speaking 6.5, writing 6, reading 7, listening 7] certified by IDP Australia (2009)</li>
</ul>
</li>
</ul>
<h3>Organizational Experience</h3>
<ul>
<li>Staff of Tim Pembimbing Siswa, Perkantas (Persekutuan Antar-Universitas) Semarang (2002-2007)</li>
<li>Staff of Himpunan Mahasiswa Elektro, Interest and Talent Department (2003-2004)</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=55&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2009/12/31/curicullum-vitae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TESIS: Perancangan Model Konseptual Pengendalian Sosial pada Komunitas Situs Jejaring Sosial (Studi Kasus Fupei.com dan Kombes.com)</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2009/12/01/tesis-perancangan-model-konseptual-pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-studi-kasus-fupei-com-dan-kombes-com/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2009/12/01/tesis-perancangan-model-konseptual-pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-studi-kasus-fupei-com-dan-kombes-com/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 14:33:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paper]]></category>
		<category><![CDATA[karakteristik penyimpang]]></category>
		<category><![CDATA[model pengendalian sosial]]></category>
		<category><![CDATA[penyimpangan]]></category>
		<category><![CDATA[situs jejaring sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2009/12/01/tesis-perancangan-model-konseptual-pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-studi-kasus-fupei-com-dan-kombes-com/</guid>
		<description><![CDATA[Perancangan Model Konseptual Pengendalian Sosial pada Komunitas Situs Jejaring Sosial (Studi Kasus Fupei.com dan Kombes.com) ALFA RYANO YOHANNIS — NIM 23507003 Program Studi Magister Informatika Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya penggunaan Situs Jejaring Sosial (SJS) untuk penyimpangan, seperti pornografi, rasisme, dan penipuan. Pengendalian sosial diperlukan untuk mengendalikan perilaku menyimpang tersebut. Untuk itu, penelitian ini mencoba [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=62&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Perancangan Model Konseptual Pengendalian Sosial </b><b>pada Komunitas Situs Jejaring Sosial </b><b>(Studi Kasus Fupei.com dan Kombes.com)</b></p>
<p><b>ALFA R</b><b>YANO</b><b> YOHANNIS — NIM 23507003</b></p>
<p><b>Program Studi Magister Informatika</b></p>
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya penggunaan Situs Jejaring Sosial (SJS) untuk penyimpangan, seperti pornografi, rasisme, dan penipuan. Pengendalian sosial diperlukan untuk mengendalikan perilaku menyimpang tersebut. Untuk itu, penelitian ini mencoba merancang suatu model pengendalian sosial pada SJS.</p>
<p>Penelitian dilakukan melalui studi literatur dan studi kasus pada Fupei.com dan Kombes.com. Studi kasus dilakukan melalui dua tahap, yaitu analisis kualitatif melalui observasi kasus dan analisis kuantitatif menggunakan statistik inferensial dan deskriptif. </p>
<p>Analisis kualitatif menemukan bahwa SJS juga memiliki nilai-nilai sebagaimana di dunia nyata, di mana salah satu nilai yang dominan adalah nilai hiburan. Analisis kuantitatif menemukan penyimpang cenderung memiliki karakteristik tertentu yang secara signifikan membedakan mereka dari bukan penyimpang. Berdasarkan hasil analisis dan hasil penelitian terkait, penelitian ini merancang dan menghasilkan suatu model konseptual pengendalian sosial yang dapat digunakan sebagai acuan bagi implementasi pengendalian sosial pada SJS.</p>
<p><strong>Kata Kunci </strong>: situs jejaring sosial, penyimpangan, karakteristik penyimpang, model pengendalian sosial</p>
<p> <span id="more-62"></span>
<p><b>DESIGNING CONCEPTUAL MODEL OF SOCIAL CONTROL </b><b>ON SOCIAL NETWORKING SITE COMMUNITIES </b><b>(</b><b>Case Study</b><b> Fupei.com and Kombes.com)</b></p>
<p>This Research is inspired by the vast use of Social Networking Sites (SNSs) for deviance, such as pornography, racism, and fraud. Social control is necessary to control those deviant behaviors. Therefore, this research attempts to design a model of social control in the SNS.</p>
<p>Research is performed through literature study and case study on Fupei.com and Kombes.com. The case study consists of two stages, which are the qualitative analysis through observations on the SNS and the quantitative analysis using inferensial and descriptive statistics.</p>
<p>As results, the qualitative analysis finds that SNS has values as in the real world, which one of the dominant values is the value of entertainment. The quantitative analysis finds that deviants tend to have certain characteristics that significantly distinguish them from nondeviants. Based on the results of the analysis and the results of literature study, research designs and produces a conceptual model of social control that can be used as a reference for the implementation of social control in SNSs.</p>
<p><strong>Keywords </strong>: social networking sites, deviance, deviant characteristics, social control, social control model</p>
<div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:fb3a1972-4489-4e52-abe7-25a00bb07fdf:9f266f05-03d9-40a1-a91d-bc5ff2b8bd8c" style="display:inline;float:none;margin:0;padding:0;">
<p> <a href="http://wuawua.files.wordpress.com/2010/01/tesisalfaryano.pdf" target="_blank">Draft Laporan dapat diunduh di sini</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=62&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2009/12/01/tesis-perancangan-model-konseptual-pengendalian-sosial-pada-komunitas-situs-jejaring-sosial-studi-kasus-fupei-com-dan-kombes-com/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>signpost Words</title>
		<link>http://wuawua.wordpress.com/2009/07/09/signpost-words/</link>
		<comments>http://wuawua.wordpress.com/2009/07/09/signpost-words/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 11:27:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wua2</dc:creator>
				<category><![CDATA[English]]></category>
		<category><![CDATA[IELTS]]></category>
		<category><![CDATA[Englsih]]></category>
		<category><![CDATA[TOEFL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wuawua.wordpress.com/2009/07/09/signpost-words/</guid>
		<description><![CDATA[Signpost Words Pembicara yang baik akan menggunakan signpost words untuk menunjukkan penekanan atau alur pembicaraan mereka. Signpost words mengarahkan pembicaraan dengan: menunjukkan pada pendengarnya bahwa informasi penting akan segera dikatakan dan memberikan pentunjuk jenis informasi apa yang akan diucapkan. Mampu mengidentifikasi dan mengikuti singpost words akan sangat membantu dalam memahami percakapan yang didengar. Signpost words [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=4&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Signpost Words</h3>
<p>Pembicara yang baik akan menggunakan <em>signpost words </em>untuk menunjukkan penekanan atau alur pembicaraan mereka. S<em>ignpost words </em>mengarahkan pembicaraan dengan: menunjukkan pada pendengarnya bahwa informasi penting akan segera dikatakan dan memberikan pentunjuk jenis informasi apa yang akan diucapkan. Mampu mengidentifikasi dan mengikuti singpost words akan sangat membantu dalam memahami percakapan yang didengar. Signpost words dapat dikategorikan sebagai berikut:</p>
<p><span id="more-4"></span></p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="650">
<tbody>
<tr>
<td width="284" valign="top"><strong>Signaling a contrast or opposite</strong></td>
<td width="364" valign="top">although, even though, despite, even if, but on the other hand, but on the other, by contrast, as well as, unlike, whereas, however</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top"><strong>Introducing an example</strong></td>
<td width="364" valign="top">for instance, for example</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top"><strong>Providing Extra information</strong></td>
<td width="364" valign="top">also, in addition</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top"><strong>Giving Reason (cause and effect)</strong></td>
<td width="364" valign="top">because, so</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top"><strong>Setting out the stages of a talk / signaling a sequence</strong></td>
<td width="364" valign="top">first of all, then, lastly</td>
</tr>
<tr>
<td width="284" valign="top"><strong>Signaling an explanation or results</strong></td>
<td width="364" valign="top">consequently, in other words</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wuawua.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wuawua.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wuawua.wordpress.com&amp;blog=8469058&amp;post=4&amp;subd=wuawua&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wuawua.wordpress.com/2009/07/09/signpost-words/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbedea1cd72d5251c473a0160ba247b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wua2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
