Menuju Kerangka Kerja Green IT: Green IT dari Empat Perspektif

Draft Makalah SEMINAR NASIONAL TEKNOIN 2010 “Pengembangan Teknologi Berbasis Green Technology”, Sabtu, 11 Desember 2010. Versi pdf dapat diunduh di sini Draft Green IT Framework.

Alfa Ryano Yohannis
PT Sterling Tulus Cemerlang
http://www.sterling-team.com
alfa.ryano@gmail.com

Abstrak

Dilatarbelakangi oleh kebutuhan global akan pentingnya pemakaian teknologi yang ramah lingkungan, maka bidang teknologi informasi mempromosikan suatu bidang yang disebut Green IT. Melalui kajian literatur, makalah ini mengajukan suatu kerangka kerja (framework) Green IT yang memandang Green IT dari 4 perspektif, yaitu Dimensi Kerja, Tataran Area Kerja, Metode, dan Aktor. Setiap tindakan praktis Green IT dapat bekerja di berbagai tataran kerja dengan metode yang berbeda-beda untuk mempengaruhi nilai dari beragam dimensi kerja. Diharapkan kerangka kerja awal ini dapat digunakan sebagai panduan dalam mewujudkan Green IT yang utuh.

Kata Kunci: Green IT, kerangka kerja, metode, tataran area kerja, dimensi kerja, aktor, perspektif

Pendahuluan

Seiring dengan tumbuhnya tekanan untuk melakukan gerakan Hijau dan tuntutan bagi perusahaan untuk lebih menghijaukan bisnisnya, permintaan teknologi informasi dan komunisasi (ICT) yang ramah lingkungan dan mendukung gerakan Hijau juga semakin tinggi. ICT dianggap dapat memberikan kontribusi positif karena dapat meningkatkan efesiensi dan efektivitas kerja perusahaan, proses produksi, dan layanan masyarakat. Walaupun demikian, ICT juga berkontribusi besar pagi pengerusakan lingkungan. Limbah dari proses produksi produk ICT dan produk ICT yang tidak digunakan lagi menjadi racun dan sampah bagi lingkungan. Atas dasar ini, atas dasar ini Green IT lahir sebagai suatu bidang studi dan terapan yang mencoba mengurangi atau menghilangkan dampak negatif ICT terhadap lingkungan.Tidak terbatas pada lingkup sendiri, Green IT juga diharapkan dapat berkontribusi bagi penghijauan bidang-bidang lainnya.

Makalah ini mencoba melihat Green IT dari 4 perspektif sehingga Green IT dapat dipahami lebih utuh. Pemahaman yang diperoleh kemudian dapat digunakan sebagai pengetahuan, dan jika mungkin, digunakan dalam menerapkan Green IT. Hasil dari empat perspektif yang diajukan makalah ini diharapakan dapat menjadi langkah awal bagi penyusunan kerangka kerja pemahaman dan penerapan Green IT yang lebih utuh.

Kajian Terkait

Apakah Green IT itu? Green IT atau Green Computing adalah studi dan penerapan dari perancangan, manufaktur, penggunaan, dan pembuangan komputer, server, dan subsistem terkait—seperti sistem monitor, printer, media penyimpanan, dan komunikasi dan jaringan—secara efisien dan efektif dengan meniadakan atau meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan [6]. Walaupun demikian, definisi tersebut dianggap belum cukup. Dari sekedar menghijaukan bidang disiplin sendiri (ICT), Tomlinson mengajukan bahwa bidang ICT dapat memberi kontribusi bagi penghijauan ekosistem [8]. Green IT lebih dari sekedar optimasi hardware di ruang data center, tetapi juga optimasi algoritma, proses bisnis, tata kelola, hingga perubahan perilaku. Makalah ini berpendapat, bahwa, selain berkontribusi bagi ekosistem (outward), ICT juga dapat menerima kontribusi dari bidang lain (inward), termasuk dari lingkungan hidup, bagi pembangunan bidang ICT sendiri.

Sangat sedikit makalah atau penelitian yang membahas model dan atau kerangka kerja Green IT. Namun, sebagian besar membahas Green IT pada tataran praktis dan bagaimana mengoptimalkan kerja ICT sehingga mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan; misal going paperless, power management, dan optimasi data centers. Beberapa framework implementasi Green IT juga telah diajukan, misalnya Green IT Readiness [5] dan beberapa framework Green IT, dari www.adjugo.com dan www.GreenIT.net. Framework-framework tersebut lebih menekankan pada penyusunan strategi, kebijakan, dan proses implementasi Green IT pada tingkat Enterprise tetapi kurang dari sisi pemahaman komprehensif dari Green IT sendiri. Oleh karena itu, diperlukan suatu kerangka kerja yang melihat Green IT dari berbagai perspektif. Dengan demikian, pelaku Green IT dapat melihat Green IT secara utuh; tidak sekedar tindakan praktis tetapi juga memiliki banyak sisi yang saling terkait.

Metodologi

Berdasarkan prinsip pertanyaan 5W1H yang digunakan dalam Knowledge Visualization Framework [1] dan Zachmam Framework [10], penelitian ini menggunakan metode yang sama untuk menghasilkan pertanyaan-pertanyaan panduan bagi penyusunan kerangka kerja dalam memahami dan menerapkan Green IT. Empat pertanyaan kemudian ditetapkan, yaitu:

  1. Dimensi apa saja yang dipengaruhi dari penggunaan ICT bagi kepentingan lingkungan? (dimensi kerja)
  2. Pada tataran apa saja Green IT bekerja? (tataran area kerja)
  3. Bagaimana Green IT bekerja? (metode)
  4. Siapa saja yang terlibat dalam Green IT? (aktor)Dengan menggunakan empat pertanyaan ini, empat perspektif Green IT diperoleh dan model awal kerangka kerja disusun sebagaimana yang terlihat pada Gambar 1. Keempat perspektif tersebut dijelaskan pada bagian selanjutnya.

image

Gambar 1. Green IT dari empat perspektif.

Dimensi Kerja

Dimensi Kerja adalah besaran yang mana jika Green IT dijalankan akan mengubah nilai dari besaran-besaran tersebut. Besaran ini merupakan sesuatu yang diupayakan diubah oleh Green IT untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan. Dimensi-dimensi ini saling terhubung satu sama lain, di mana perubahan di dimensi yang satu akan menjadikan peningkatan atau pengurangan di dimensi lainnya. Dengan kata lain, setiap solusi yang diberikan biasanya memiliki kelemahan (drawbacks). Beberapa dari dimensi tersebut antara lain, waktu, energi, biaya, dan dampak negatif terhadap lingkungan.

Waktu. Waktu adalah salah satu yang direduksi dari perkembangan ICT. Dari waktu ke waktu kinerja prosesor semakin cepat, memungkinkan set instruksi komputasi dilakukan hanya sepersekian detik. Tetapi, peningkatan kecepatan komputasi turut diikuti oleh kebutuhan energi yang lebih besar. Contoh lain adalah komunikasi yang dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan mengirim email, chat, atau pun telepon. Penggunaan ICT mampu mereduksi waktu, biaya, dan energi yang dibutuhkan jika berpergian menggunakan transportasi untuk berkomunikasi secara langsung. Kekurangannya adalah efek psikologi yang diperoleh ketika bertatap muka secara langsung menjadi hilang.

Energi. Energi menjadi salah satu fokus utama dari perkembangan teknologi informasi. Teknologi saat ini berusahasa untuk mengefisienkan energi dan mengkonservasinya sehingga kerja dapat terus terjaga. Misalnya penggunaan baterei pada laptop memungkin seseorang tetap bekerja tanpa terhubungan ke sumber listrik utama, tetapi materi yang menyusun baterei agar bekerja lebih fisien adalah logam-logam berat atau bahan kimia yang berbahaya bagi lingkungan [7] [8].

Biaya. Produk-produk ICT yang efisien energi biasanya lebih mahal dari produk-produk biasa karena dibuat dengan teknologi ramah lingkungan yang biaya materi dan produksinya lebih mahal [7]. Kecenderungannya, biaya yang lebih mahal ini dijadikan alasan bagi perusahaan untuk tidak menjalankan Green IT. Perusahaan lebih melihat keuntungan yang diperoleh secara finansial dibandingkan dampak yang diberikan produk terhadap lingkungan.

Lingkungan. Cepatnya perkembangan teknologi dan tuntutan industri membuat produksi barang-barang ICT berlanjut setiap tahunnya, produk-produk yang dianggap sudah usang, rusak, dan ketinggalan zaman akhirnya dibuang dan menjadi limbah. Produk-produk ICT pada umumnya mengandung materi-materi beracun, logam berat, dan tidak bio-degradable yang pada pada akhirnya akan mencemari lingkungan [8][9]. Belum lagi penggunaan ICT yang tidak efisien energi akan menghasilkan carbon footprint yang banyak. Untuk mengurangi dampak negatif produk ICT terhadap lingkungan tidaklah mudah karena membutuhkan biaya besar dan sulitnya mengubah perilaku pengguna agar menjadi pengguna yang arif lingkungan.

Dari contoh-contoh yang telah dikemukakan, terlihat bahwa ada tarik-menarik antara dimensi-dimensi kerja Green IT. Masalahnya adalah bagaimana menempatkan prioritas dengan bijak dan merekonsiliasi setiap kebutuhan aktor sehingga diperoleh solusi ICT yang ramah lingkungan, hemat energi dengan biaya yang memadai, dan bekerja dengan kecepatan yang dapat diterima. Kini dengan adanya tututan masyarakat global untuk lebih memperhatikan masalah lingkungan, bidang ICT perlu menempatkan dimensi dampak negatif terhadap lingkungan sebagai salah satu pertimbangan utama, dengan tetap memperhatikan dimensi-dimensi lainnya sampai kepada tingkatan yang mendukung kehidupan manusia.

Tataran Area Kerja

Green IT sebagai usaha praktis dalam menjawab tanggung jawab lingkungan dapat bekerja pada tataran area kerja (levels of working area) yang berbeda-beda. Dari tataran efisiensi kinerja fisik (hardware), optimasi algoritma (software), rekayasa ulang proses bisnis (business flow), kebijakan dan aturan (governance), hingga kepada pembentukan perilaku (behaviour).

Hardware. Pada tataran tataran hardware, upaya dilakukan dengan memafaatkan natur fisik dari materi dan lingkungan. Misalnya penggunaan air sebagai pendingin dengan mengalirkan panas dari server ke laut, danau, atau kolam. Contoh lain adalah pemanfaat materi bio-degradable sebagai casing peralatan elektronik [4][7][9].

Software. Pada tataran software, semakin tinggi beban komputasi maka semakin banyak energi yang digunakan. Algoritma yang tidak optimal dapat mengkonsumsi waktu yang pada gilirannya akan boros energi. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan algoritma komputasi sehingga performa komputasi cukup untuk menanggung beban komputasi dan juga hemat dalam penggunaan energi [2].

Proses Bisnis. Pada tataran proses bisnis, optimasi dapat dilakukan dengan melakukan rekayasa ulang proses bisnis. Dengan dukungan ICT beberapa proses dapat diotomasi, digabung, atau dihilangkan sehingga dapat memotong biaya yang dikeluarkan untuk proses-proses tersebut. Misalnya, nasabah tidak perlu lagi pergi ke bank mengantri hanya untuk transfer rekening. Cukup dengan penggunaan layanan e-banking melalui internet di rumah atau kantor, renening dapat ditransfer. Keuntungannya biaya transportasi dan kertas dapat dikurangi [7].

Governance. Upaya Green IT juga dapat dilakukan melalui Green Governance. Beberapa diantarannya ialah dimulainya inisiatif dan penetapan penetapan standard atau sertifikasi sehingga para vendor dintuntut menghasilkan produk-produk ICT yang semakin ramah lingkungan. Konsumen juga diuntungkan karena mereka dapat memilih produk-produk ICT yang hemat energi sehingga menurunkan biaya. Beberapa inisiatif dan standard yang sudah berjalan adalah program Solving the E-waste Problem (StEP) oleh PBB, Basel Action Network (BAN), Basel Convention, Electronic Product Environmental Assessment Tool (EPEAT), European Union’s Waste Electrical and Electronic Equipment (WEEE), Restriction of Hazardous Substances Directive (RoHS), dan Environmental Protection Agency’s (EPA’s) Energy Star Program [9].

Behavior. Bagian ini mungkin adalah bagian yang tersulit karena yang diubah manusianya—perilakunya. Seringkali ketika seseorang ingin berubah, ia harus bebenturan dengan tuntutan budaya dan kebiasaan dari institusi atau lingkungannya. Misalnya, keinginan manusia untuk exist, up-to-date, dan diakui oleh komunitasnya membuatnya sering membeli gadget baru setiap tahun. Gadget yang lama tidak digunakan lagi dan akhirnya menjadi sampah. Salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah menghasilkan produk yang memiliki umur hidup panjang, dapat dikostumasi, dan upgradable sehingga dapat mengurangi laju pertumbuhan sampah.

Solusi Green IT—misal penggunaan telecommuting dan telepresence—seperti tidak berdaya ketika menghadapi budaya dan institusi. Misalnya para akademisi dituntut berpergian jauh mengikuti seminar internasional dan nasional menghasilkan banyak carbon footprint dari penggunaan transportasi udara, darat, atau laut [8]. Penggunaan telepresence tidak begitu saja dapat diterapkan karena berbenturan dengan tuntuan budaya dan institusi yang menghendaki akademisi dapat saling bertemu dan berdiskusi secara langusng dalam suatu seminar.

Metode

Kata metode identik dengan bagaimana kita melakukan sesuatu atau bagaimana sesuatu bekerja. Lalu, bagaimanakah Green IT bekerja? Dari kajian literatur diperoleh bahwa Green IT berkerja dengan mengurangi (reduce), guna ulang (reuse), daur ulang (recycle), optimisasi (optimization), virtualisasi (virtualization), pengukuran (measuring), memberikan informasi (informing), dan memberikan pengetahuan (creating knowledge).

  1. Reduce berarti mengurangi penggunaan atau mengurangi produksi material yang berbahaya bagi lingkungan. Termasuk mengurangi jumlah produksi agar tidak berlebihan (pemborosan) [3][4][7][9]. Contoh, mengurangi penggunaan kertas sebagai dokumen tranksaksi dan menggantinya dengan workflow systems.
  2. Reuse atau guna ulang adalah upaya untuk mengurangi pemborosan dengan menyediakan produk yang didapat dipakai berulang-ulang atau menggunakan ulang produk bekas atau yang telah dipakai. Misal, di software development, terdapat konsep reuse di mana kelas, objek, variable, prosedur, fungsi, atau web service dapat digunakan berulang-ulang, tidak perlu membuat yang baru lagi, sehingga dapat mengurangi waktu pengembangan software, penggunaan memori, dan biaya [2].
  3. Recycle atau daur ulang adalah hasil atau sisa-sisa dari proses produksi dan pemakaian yang tidak dapat digunakan lagi ditranformasi sehingga masih memiliki nilai tambah untuk digunakan sebagai bahan bagi proses produksi. Misalnya, piringan CD atau DVD bekas didaur ulang, sehingga materi-materi yang terkandung dapat digunakan lagi [4][7][9].
  4. Optimisasi adalah bagaimana melakukan proses sehingga nilai perbandingan antara keluaran dan masukan dapat mencapai atau mendekati 100%. Optimisasi dapat dilakukan melalui perbaikan alogritma, pemilihan algoritma yang tepat sesuai kebutuhan, dan pemilihan bahan penyusun hardware yang memiliki efisiensi tinggi dan tahan lama [2].
  5. Virtualisasi adalah mengemulasi sistem komputasi fisik dalam bentuk software. Virtualisasi memungkinkan suatu server berjalan dalam server lain sehingga tidak diperlukan perangkat keras untuk menjalankannya. Cara ini adalah cara yang paling efisien dalam melakukan penghematan karena perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk membeli perangkat keras untuk setiap server yang diperolehnya [3][4][7][9].
  6. Informing adalah memberikan informasi kepada pengguna sehingga dapat membuat keputusan yang optimal. Seseorang yang well-informed dapat bertindak lebih bijak, misalnya seseorang diberikan informasi mengenari rute tercepat dari rumah ke kantornya dengan memperhitungkan faktor waktu dan kemacetan memungkinkan ia sampai ke tempat tujuan lebih cepat, terhindar dari kemacetan, dan mengurangi carbon footprint. Contoh lain, dengan social rating system akan mengurangi tingkat keselahan pembeli membeli barang yang tidak sesuai keinginannya [8].Masih banyak lagi metode lain yang dapat digunakan untuk Green IT dan tidak disebutkan semuanya dalam makalah ini.

Aktor

Yang dimaksud dengan aktor di sini adalah setiap pihak yang terlibat atau menjadi pelaku atau objek dari Green IT. Aktor dapat berupa individu, kelompok, hingga masyarakat. Aktor dapat berupa vendor sebagai produsen ICT, pelanggan sebagai pemakai ICT, atau pun pemerintah sebagai regulator. Aktor pun dapat berupa bidang ICT, bidang bisnis, bidang pemerintahan, dan sebagainya sebagai bagian dari ekosistem. Oleh karena itu, Green IT tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari suatu ekosistem yang memiliki subsistem-subsitem yang terkait satu sama lain (Gambar 4). Sesungguhnya, ICT pun dapat dimanfaatkan untuk menghijaukan bidang-bidang yang lain pula [8]. Juga, ICT dapat memanfaat hasil-hasil penelitian dari bidang lain untuk menbangun bidang ICT sendiri.

image

Gambar 2. Saling keterkaitan antara sistem Green IT dengan sistem-sistem lainnya dalam suatu ekosistem.

Dari dalam Green IT ke Luar

Contoh yang paling jelas bagaimana ICT dapat berkontribusi bagi bidang lain adalah penggunaan data mining untuk melakukan prediksi dan forecasting pada bidang industri, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, dan lain-lain. Sebagai contoh, Data Mining—digunakan sebagai bagian dari Business Intelligence—memberikan informasi berupa prediksi, klasifikasi, dan forecasting kepada penggunanya sehingga dengan informasi tersebut penggunaanya dapat membuat keputusan yang lebih bijak. Hasilnya pemborosan dapat ditekan. Misalnya dengan pertimbangan forecasting angka penjualan untuk tahun depan, bagian produksi dapat mempersiapakan bahan baku, energi, dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Keuntungannya kelebihan produksi dapat dikurangi sehingga produksi sampah atau limbah juga dapat ditekan. Contoh lain, penggunaan Real Time System pada Air Traffic Control memungkinkan pengaturan jadwal ketibaan dan keberangkatan pesawat terbang menuju titik optimal sehingga pesawat yang akan medarat tidak perlu berlama-lama di udara. Ini akan mengurangi jumlah bahan bakar yang digunakan. Inilah beberapa contoh yang Green IT dapat berikan bagi ekosistem, khususnya bagi lingkungan hidup.

Dari Luar ke dalam Green IT

Selain dapat memberikan kontrubusi bagi lingkungan hidup, Green IT pun dapat belajar dari alam untuk meningkatkan kualitasnya. Misalnya belajar dari lebah pekerja yang mampu memilih jalur terpendek dari bunga satu ke bunga lainnya. Lebah, walaupun kecil, mampu memilih jalur terpendek, yaitu memecahkan masalah Travelling Sales Man yang sering dihadapi dibidang indutri, transportasi, ICT, dan lain-lain. Dengan memahami bagaimana lebah memecahkan masalah Travelling Sales Man, pengetahuan yang diperoleh dapat dimanfaat bagaimana mendesain jaringan dan routing tekelekomunikasi dan internet, social networking dengan optimal.

Penutup

Makalah ini menyimpulkan bahwa Green IT dapat dilihat dari berbagai perspektif. Dari perspektif dimensi kerja, terdapat berbagai besaran terukur (waktu, energi, biaya, dampak terhadap linkungan, dll) yang diupayakan untuk ditingkatkan atau dikurangi dalam mewujudkan Green IT. Dari perspektif tataran area kerja, Green IT tidak hanya dilakukan di tataran hardware saja, tetapi juga dapat dilaksanakan di tataran software, tata kelola, proses bisnis, dan perubahan perilaku penggunanya. Dari perspektif metode, Green IT dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu mengurangi, guna ulang, daur ulang, virtualisasi, optimasi, mengukur, dan bahkan dengan memberikan informasi yang tepat dan cukup untuk membuat sesorang memtuskan berperilaku lebih Hijau.

Mengupayakan Green IT yang berhasil guna bukanlah perkara yang mudah. Green IT membutuhkan keterlibatan dan dukungan dari berbagai pihak mulai dari vendor, pemerintah, hingga pengguna, baik individu, kelompok, maupun korporat. Terlebih lagi, hambatan terbesar ada pada perilaku pengguna ICT itu sendiri. Tetapi jika perilaku Hijau pengguna telah terbentuk, faktor pengguna dapat menjadi faktor penentu terbesar keberhasilan Green IT. Oleh karena diperlukan penelitian dan kerja ekstensif, bagaimana ICT berkontribusi bagi pembentukan perilaku masyarakat yang ramah lingkungan. Teknologi dapat mengubah perilaku penggunanya. Mengapa tidak menggunakan teknologi untuk mengubah perilaku individu, kelompok, dan masyarakat untuk berperilaku lebih Hijau?

Daftar Pustaka

  1. Burkhard, R. A. (2005). Towards a Framework and a Model for Knowledge Visualization: Synergies Between Information and Knowledge Visualization. Dalam Knowledge and Information Visualization Searching for Synergies (Eds: Tergan, S. dan Keller, T.) Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
  2. Gruber, R., Keller, V. (2010). HPC@GreenIT: Green Hight Performance Computing Methods. Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
  3. Lamb, J. (2009). The Greening of IT: How Companies Can Make a Difference for the Environment. IBM Press.
  4. Leonhard, W., dan Murray, K. (2009). Green Home Computing For Dummies®. Wiley Publishing, Inc.
  5. Molla, M., dan Cooper, V., (2009). Green IT Readiness: A Framework and Preliminary Proof of Concept. Australasian Journal of Information Systems. Volume 16 Number 2, 2009.
  6. Murugesan, S., (2008). Harnessing Green IT: Principles and Practices. IEEE IT Professional, January–February 2008, hal. 24-33.
  7. Poniatowski, M. (2010). Foundations of Green IT: Consolidation, Virtualization, Efficiency, and ROI in the Data Center. Prentice Hall. Pearson Education, Inc.
  8. Tomlinson, B. (2010). Greening Throught IT: Information Technology for Environmental Sustainability. Massachusetts Institute of Technology.
  9. Velte, T.J., Velte, A.T., Elsenpeter R. (2008). Green IT: Reduce Your Information System’s Environmental Impact While Adding to the Bottom Line. McGraw-Hill.
  10. . Zachman, J.A. (1987). A Framework for Information System Architecture. IBM System Journal Vol. 26, No. 3.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s